Sate Maranggi Cianjur

Sate Maranggi yang ada di Warung Sari Asih Cianjur memang mantap, apalagi jika sate sudah dihidangkan dengan nasi bungkus yang masih panas. Dengan ditaburi sambal yang khas yaitu, sambal oncom, dan bisa dinikmati juga dengan tambahan cabe rawit. Eits jangan salah, sate yang satu ini juga bisa dinikmati dengan ketan bakar.

Penasaran dengan rasanya? Yuk datang ke Cianjur, dan rasakan nikmatnya Sate Maranggi, kalo kamu?

Advertisements

Potret Sekolah Merdeka @smkn_50 Jakarta

merdeka itu bisa menikmati alam pemberi kehidupan, berada di @smkn_50 Jakarta yang hejo itu warbyasa guys, kalo kamu?
.
.
#SMKN5OJAKARTA
#smknegeri50jakarta
#sekolahhijau
#SEKOLAHINSTAGRAMABLE
#disdikdkijakarta
@disdikdki

suasana upacara kemerdekaan RI di SMKN 50 Jakarta 170819

Sop Kambing Tiga Sodara Cipinang Jaya

Saya tinggal di cipinang muara jakarta timur sejak 1994, warung tenda yang mulai buka sekitar pk 17 hingga tengah malam sering jadi tempat menghangatkan diri mengecap yang nikmat dengan istri, sahabat dan kerabat.

Sampai semalam, 2 Agustus 2019 saya masih menikmati sajian favorit saya, lidah kambing, tulang muda dan banyak lagi potongan bagian kepala kambing plus kaki, sekarang ada juga daging sapi, barangkali banyak permintaan bagi mereka yang kurang berselera dengan kambing, sayang sekali terpedo, nama samaran buah zakar kambing kini makin sulit didapat, walau pedagang itu sudah memesan kepada penjual daging langganannya, kemanakah perginya sang terpedo?

Kerbau Tana Toraja

KERBAU TORAJA1

kerbau toraja

Kerbau di Tana Toraja mempunyai nilai sosial tinggi, namun orang Toraja mempunyai cara menilai kerbau mereka. Tinggi rendahnya nilai kerbau tergantung pada mutu kerbau menurut penilaian yang berlaku umum, dan nampaknya sudah dipakai turun temurun sejak jaman nenek moyang. Penilaian ini juga berlaku bagi para pedagang kerbau saat ini dalam menentukan harga.

Secara umum, orang Toraja menilai kerbau dari tanduk, warna kulit dan bulu, dan postur, serta tanda-tanda di badan. Mutu kerbau dapat dilihat dalam cara orang Toraja sendiri mengelompokkan kerbau berdasar jenis yang mereka kenal. Salah satu bukti demikian pentingnya kerbau dalam kebudayaan orang Toraja adalah dengan adanya sejumlah kategori dari berbagai macam jenis kerbau.

2. Berdasarkan Tanduk
Tanduk kerbau menentukan nilainya. Namun, peran tanduk bagi kerbau jantan lebih penting dibandingkan pada kerbau betina. Biasanya ukuran dan bentuk tanduk kerbau betina tidak terlalu diperhitungkan. Tidaklah demikian dengan kerbau jantan. Tanduk kerbau menjadi alat dekoratif yang bermakna dalam masyarakat. Di rumah- rumah tongkonan tanduk kerbau disusun di depan rumah, sebagai simbol status seseorang atau tongkonan. Nilai satu kerbau muda ditentukan oleh pajang tanduknya. Semakin panjang maka semakin berharga. Harga otomatis akan turun bila terdapat cacat pada tanduknya, atau bentuknya tidak proporsional dengan badan kerbau. Ukuran ini dipakai dalam transaksi yang memakai kerbau. Umumnya, kerbau dipakai sebagai alat pembayaran dalam transaksi jual beli tanah sawah atau kebun, gadai dan dalam pesta kematian. Sebagai alat ukur, orang Toraja memakai ukuran anggota badan,( tangan).

3. Ukuran
1. sang lampa taruno, artinya ukurannya sama dengan panjang ruas ujung jari tengah orang dewasa.
2. duang lampa taruno, artinya ukurannya sama dengan panjang dua ruas jari tengah orang dewasa.
3. sang rakka’, artinya ukurannya sama dengan panjang satu jari tengah orang dewasa. 4. limbong pala’, artinya ukurannya sama dengan panjang setengah telapak tangan
orang dewasa.
5. sangkumabe’ artinya ukurannya sama dengan panjang telapak tangan orang dewasa. 6. sang lengo, artinya ukurannya sama dengan panjang ujung jari hingga pergelangan
tangan orang dewasa.
7. sang pala’, artinya ukurannya sama dengan panjang pergelangan tangan ditambah
empat jari.
8. sang busukan ponto, artinya ukurannya sama dengan panjang pergelangan tangan
ditambah setengah lengan tangan orang dewasa.
9. alla’ tarin, artinya ukurannya sama dengan panjang hingga di atas siku 10. inanna, artinya ukurannya melewati siku.
4. Bentuk
Selain ukurannya, bentuk tanduk juga mempunyai arti penting dalam memberi nilai pada kerbau. Orang Toraja membedakan bentuk tanduk sebagai berikut:
1. tanduk tarangga yaitu tanduk yang keluar dan membentuk setengah lingkaran. Jenis ini sangat umum di Toraja. Untuk kerbau jantan, jenis ini sangat kuat dalam adu kerbau.
2. tanduk pampang yaitu tanduk yang keluar melebar dan cenderung panjang. Tanduk jenis ini biasanya terbentuk dari kerbau balian. Kerbau yang buah pelernya sengaja dilepas untuk memperindah tanduk.
3. tanduk sikki’ yaitu tanduk yang arahnya hampir sama dengan tarangga namun cenderung merapat bahkan ujungnya nyaris bertemu.
235
4. tanduk sokko yaitu tanduk yang arahnya turun ke bawah dan hampir bertemu di bawah leher. Dengan warna tertentu nilainya menjadi sangat mahal.
5. Tekken Langi’ yakni tanduk yang mengarah secara berlawanan arah, satu ke bawah dan satu ke atas.
5. Berdasarkan Warna
Selain bentuk dan ukuran tanduk, kesempurnaan seekor kerbau ditentukan oleh warnanya. Warna juga menentukan nilai kerbau. Secara garis besar, masyarakat Toraja mengenal tiga kategori warna berikut variasinya: bonga, puduk, dan sambao’.
Dari tiga kategori ini masih terdapat variasi warna. Yang pertama mempunyai nilai relatif mahal, menyusul kedua dan ketiga.
(1) Bonga
Bonga adalah kerbau yang berwarna kombinasi hitam dan putih, diangap paling cantik, harganya puluhan sampai ratusan juta. Kerbau juga dapat ditemukan di masyarakat TO Bada, Sulawesi Tengah, Sumba, Flores, Roti dan Timor (Nooy-Palm, 1979). Namun secara proporsional sangat jarang. Di Toraja sendiri jenis ini sangat jarang. Kelahiran kerbau belang bagi pemiliknya merupakan suatu berkah. Upaya untuk perkawinan silang pun jarang sekali berhasil. Jadi kelahiran bonga sangat kebetulan. Satu kerbau bonga biasanya dinilai antara 10 hingga 20 kerbau hitam. Bonga memiliki beberapa variasi dari segi kombinasi warna dan tanda-tandanya.
a. Bonga saleko atau bonga doti adalah jenis yang warna hitam dan putih hampir seimbang, dan ditandai dengan taburan bintik-bintik di sekujur tubuhnya. Harga bonga Saleko bisa mencapai ratusan juta. Menurut Yunus, Harga pasaran sekarang ini sekitar 350 juta.
b. Bonga sanga’daran adalah jenis yang di bagian mulutnya dinominasi warna hitam c. Bonga Randan dali’ adalah jenis bonga yang alis matanya berwarna hitam.
d. Bonga Takinan Gayang, adalah jenis yang di punggungnya ada warna hitam
menyerupai parang panjang.
e. Bonga ulu adalah jenis yang warna putih hanya di kepalanya, sedang bagian
leher dan badan berwarna hitam.
f. Bonga lotong boko’ adalah jenis bonga yang terdapat warna hitam di punggung
g. Bonga bulan, adalah jenis bonga yang seluruh badannya berwana putih. Jenis ini
lebih murah harganya dibanding pudu’ yang mencapai 20 juta rupaih.
h. Bonga sori, adalah jenis bonga yang warna putih hanya dikepala bagian mata. Jenis
ini harganya jauh lebih murah lagi. (2) Pudu’
Pudu’ umumnya berbadan kekar dan warna hitam. Kerbau jenis ini sangat kuat dalam bertarung. Pada acara adu kerbau pada pesta kematian, kerbau puduk umumnya tampil sebagai petarung yang kuat. Harganya biasanya setengah dari harga bonga.
a. Balian adalah kerbau hitam yang dikeluarkan buah pelernya untuk membentuk tanduk yang modelnya proporsional serta semakin panjang. Makin baik dan panjang tanduknya semakin mahal. Balian yang bagus bisa dihargai 50 jutaan rupiah
b. Pudu’ adalah kerbau yang sangat hitam, dan paling banyak populasinya di Toraja. Harganya bisa mencapai setengah harga saleko.
c. Todik adalah kerbau hitam dengan bintang putih di atas kepalanya (3) Sambao’

Jenis ini adalah yang paling kurang nilainya. Warnanya abu-abu bahkan kecoklatan hampir mendekati warna sapi. Sambao’ adalah kerbau yang warnanya abu- abu dianggap paling murah nilainya.
Selain itu dalam transaksi yang berhubungan dengan kerbau, masyarakat Toraja mengenal ukuran-ukuran.
a. misa’ tedong artinya satu ekor kerbau utuh
b. sang sese tedong atau seperdua kerbau
c. sang tepo tedong atau seperempat kerbau
d. sang leso tedong atau seperenam kerbau
e. sang duluk tedong atau spertigapuluh dua kerbau
f. sang katatae tedong atau seperenampuluh empat kerbau

Sumber: Hasil Penelitian Stepanus BO’DO’ – Kerbau dalam Tradisi Orang Toraja,
The Importance of Water Buffalos in Torajanese Tradition

MENDOKUMENTASIKAN sebelum SEMINAR

Saya beruntung sekali pernah mengenal dan ditemani sambil didokumentaaikan saat seminar di banyak tempat oleh anak muda hebat namanya Ahmad @alammsyah, dia bekerja di Auto 2000, orang teknik yang punya taste fotografi bagus.

Foto di atas adalah salah satu hasil jepretan Alam di kegiatan Seminar Public Speaking di STIKOM CKI di Jakarta Timur April 2019. Saya sudah siap beraksi, slide sudah ditayangkan, moderator belum memulai, saya berbincang dengan salah satu panitia.

Foto itu berbicara banyak, jika anda berkenan untuk nelihat foto-foto lain seminar saya bisa disimak disini, terima kasih Om Alam, semoga Om sukses, sejahtera dunia akherat.

Wayang Golek Sunda

Kalijati Subang, 2 Maret 2019.

Sejarah Wayang Golek.
Sekitar tahun 1583, Sunan Kudus yang merupakan salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa pernah membuat kurang lebih 70 buah wayang dari kayu. Wayang tersebut dipertontonkan biasanya pada siang hari terkadang malam hari dengan sumber cerita lokal atau imajinasi sendiri yang tentunya sarat dengan pesan agama Islam. Sunan Kudus menggunakan bentuk wayang golek awal ini untuk menyebarkan Islam di masyarakat.

Munculnya kesenian wayang kayu lahir dan berkembang di wilayah pesisir utara pulau Jawa pada awal abad ke-17. Dikarenakan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur telah terlebih dahulu mengenal wayang kulit, kehadiran wayang golek kurang begitu berkembang, karena masyarakat disana terlanjur menggemari wayang kulit. Namun wayang golek Sunan Kudus itu menarik hati dari ulama atau sekurang-kurangnya santri Cirebon yang sedang berkunjung (atau berguru) ke wilayah Sunan Kudus. Akhirnya ide wayang golek itu dibawa ke Cirebon.

Pementasan wayang golek di tanah Parahyangan dimulai sejak Kesultanan Cirebon berada di tangan Panembahan Ratu (1540-1650) cicit dari Sunan Kudus. Yang dipertunjukan saat itu adalah wayang cepak (atau wayang golek papak), disebut demikian karena memiliki bentuk kepala yang datar.

Selanjutnya ketika kekuasaan Kesultanan Cirebon diteruskan oleh Pangeran Girilaya (1650-1662), wayang cepak semakin populer dimana kisah babad dan sejarah tanah Jawa menjadi inti cerita, yang tentunya masih sarat dengan muatan agama Islam.

Lalu wayang golek dengan cerita dari epos Hindustan seperti Ramayana dan Mahabarata seperti yang sekarang mulai hadir kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata tersebut kemungkinan besar pertama kali lahir dan berkembang dalam pertunjukan wayang kulit. Semula kisah tersebut menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah banyak dalang-dalang dari kalangan orang Sunda, maka bahasa Sunda pun mulai menggantikan penggunaan bahasa Jawa.

Perkembangan selanjutnya adalah wayang golek purwa yang tidak bisa dilepaskan dari peran Wiranata Koesoemah III (Bupati Bandung ke-6). Beliau sangat menggemari wayang, namun ia menginginkan suatu pertunjukan yang lebih menarik dan memiliki nilai-nilai keSunda-an. Akhirnya ia meminta salah seorang pengrajin wayang kulit bernama Ki Darman (pegiat wayang kulit asal Tegal) di daerah Cibiru, Ujungberung, Bandung untuk membuat bentuk wayang golek yang lebih menarik dengan bentuk kepala / rupa yang benar-benar menyerupai manusia. Maka lahirlah bentuk Wayang Golek Sunda seperti yang kita lihat sekarang.

Wayang golek semakin populer, tidak lagi sebatas konsumsi kaum menak, tapi masyarakat biasa pun mulai menggemari wayang golek ini. Wayang golek pun semakin menyebar ke segala penjuru Jawa Barat setelah dibukanya De Grote Postweg (Jalan Raya Daendels) yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa Barat.

Dari paparan diatas maka di tanah Parahyangan bermula muncul wayang-wayang klasik seperti wayang golek papak, wayang golek purwa dan wayang golek Pakuan. Wayang Golek Papak masih dipertontonkan di daerah Cirebon, dengan kisah babad yang menggunakan bahasa Cirebon. Wayang Golek Purwa, memainkan kisah Mahabharata dan Ramayana yang diadopsi dari pementasan wayang kulit namun menggunakan campuran bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Wayang golek pakuan, kisah yang ditampilkan adalah kisah-kisah legenda Priangan seperti Sangkuriang, Mundinglaya Dikusumah, Lutung Kasarung dan lain-lain.”Sejarah Wayang Golek”. West Java Kingdom.

Sumber: wikipedia.