Kerajinan Kain Karawang khas Gorontalo

IMG_3736

IMG_3737

IMG_3745

IMG_3735

Menyenangkan sekali melihat sekelompok ibu-ibu yang muda dan tua tekun membuat kerajinan Kain Kerawang yang khas dari Gorontalo. Menurut wikipedia tradisi mokarawo atau membuat sulaman adalah sepenggal sejarah yang pernah diselamatkan kaum perempuan Gorontalo. Dulu Belanda berupaya menghilangkan berbagai tradisi dan identitas lokal. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1600-an, jauh sebelum Belanda berkuasa di wilayah ini tahun 1889.

Saat Belanda masuk ke wilayah ini ada dua peristiwa penting yang mewarnai sejarah Gorontalo. Pertama, banyaknya warga masuk dan menetap di hutan dan wilayah terpencil karena enggan membayar pajak kepada Pemerintah Belanda. Keturunan orang-orang ini hingga kini masih berdiam di hutan dan wilayah terpencil, yang oleh warga Gorontalo dikenal dengan sebutan Polahi.

Kedua, upaya penghapusan segala bentuk tradisi, adat, dan hal-hal terkait berkesenian atau kebudayaan yang ada pada masyarakat Gorontalo. Saat itu Belanda melihat kekuatan orang Gorontalo terletak pada adat, budaya, dan tradisi. Karena itu, dilaranglah berbagai aktivitas yang terkait dengan adat dan tradisi.

Hengkangnya Belanda tidak serta-merta membuat karawo keluar dari ”persembunyian”. Situasi saat itu dan trauma membuat tradisi mokarawo tetap dilakukan di dalam ruang tersembunyi. Karawo mulai kembali muncul sekitar akhir tahun 1960-an, tapi belum merupakan produk yang dijual secara bebas seperti barang lain. Saat itu jika ada yang berminat pada karawo, mereka akan datang langsung ke penyulam dan memesan. Karawo kerap dibayar menggunakan uang, kerap pula dibarter dengan barang kebutuhan lain.

Pernah diselamatkan dari ancaman kepunahan saat agresi Belanda dan mengalami masa jaya, kini karawo kembali berada di bawah bayang-bayang kepunahan. Penyebabnya adalah kurangnya generasi muda yang berminat memakai karawo sebagai pakaian, apalagi sebagai penyulam. Saat ini karawo umumnya dilakukan ibu rumah tangga yang menyebar di sejumlah wilayah di Gorontalo. Tercatat saat ini ada sekitar 10.000 ibu rumah tangga yang masih menekuni karawo.

Corak batik khas Cirebon

20140702-175559.jpg
Setiap ke Cirebon Saya selalu ingin ke Trusmi, daerah pusat pengrajin batik Cirebon, langganan Saya Toko Nofa yang letaknya agak di dalam, dari perempatan Trusmi belok kanan lebih kurang 300 meter lalu ke kanan sekitar 100 meter, ada garasi tempat parkir khusus toko itu, tokonya seperti rumah, pembeli lesehan di karpet memilih koleksi batik, tak perlu menawar kami biasa diberi discount bagus, mungkin pedagang disana sudah mengenali saya atau istri saya, karena kami sering kesana, kemarin saya memotret corak khas batik Cirebon: Mega memdung, apakah corak ini yang membuat saya selalu ingin kembali, Anda permah ke Trusmi?