Kerbau Tana Toraja

KERBAU TORAJA1

kerbau toraja

Kerbau di Tana Toraja mempunyai nilai sosial tinggi, namun orang Toraja mempunyai cara menilai kerbau mereka. Tinggi rendahnya nilai kerbau tergantung pada mutu kerbau menurut penilaian yang berlaku umum, dan nampaknya sudah dipakai turun temurun sejak jaman nenek moyang. Penilaian ini juga berlaku bagi para pedagang kerbau saat ini dalam menentukan harga.

Secara umum, orang Toraja menilai kerbau dari tanduk, warna kulit dan bulu, dan postur, serta tanda-tanda di badan. Mutu kerbau dapat dilihat dalam cara orang Toraja sendiri mengelompokkan kerbau berdasar jenis yang mereka kenal. Salah satu bukti demikian pentingnya kerbau dalam kebudayaan orang Toraja adalah dengan adanya sejumlah kategori dari berbagai macam jenis kerbau.

2. Berdasarkan Tanduk
Tanduk kerbau menentukan nilainya. Namun, peran tanduk bagi kerbau jantan lebih penting dibandingkan pada kerbau betina. Biasanya ukuran dan bentuk tanduk kerbau betina tidak terlalu diperhitungkan. Tidaklah demikian dengan kerbau jantan. Tanduk kerbau menjadi alat dekoratif yang bermakna dalam masyarakat. Di rumah- rumah tongkonan tanduk kerbau disusun di depan rumah, sebagai simbol status seseorang atau tongkonan. Nilai satu kerbau muda ditentukan oleh pajang tanduknya. Semakin panjang maka semakin berharga. Harga otomatis akan turun bila terdapat cacat pada tanduknya, atau bentuknya tidak proporsional dengan badan kerbau. Ukuran ini dipakai dalam transaksi yang memakai kerbau. Umumnya, kerbau dipakai sebagai alat pembayaran dalam transaksi jual beli tanah sawah atau kebun, gadai dan dalam pesta kematian. Sebagai alat ukur, orang Toraja memakai ukuran anggota badan,( tangan).

3. Ukuran
1. sang lampa taruno, artinya ukurannya sama dengan panjang ruas ujung jari tengah orang dewasa.
2. duang lampa taruno, artinya ukurannya sama dengan panjang dua ruas jari tengah orang dewasa.
3. sang rakka’, artinya ukurannya sama dengan panjang satu jari tengah orang dewasa. 4. limbong pala’, artinya ukurannya sama dengan panjang setengah telapak tangan
orang dewasa.
5. sangkumabe’ artinya ukurannya sama dengan panjang telapak tangan orang dewasa. 6. sang lengo, artinya ukurannya sama dengan panjang ujung jari hingga pergelangan
tangan orang dewasa.
7. sang pala’, artinya ukurannya sama dengan panjang pergelangan tangan ditambah
empat jari.
8. sang busukan ponto, artinya ukurannya sama dengan panjang pergelangan tangan
ditambah setengah lengan tangan orang dewasa.
9. alla’ tarin, artinya ukurannya sama dengan panjang hingga di atas siku 10. inanna, artinya ukurannya melewati siku.
4. Bentuk
Selain ukurannya, bentuk tanduk juga mempunyai arti penting dalam memberi nilai pada kerbau. Orang Toraja membedakan bentuk tanduk sebagai berikut:
1. tanduk tarangga yaitu tanduk yang keluar dan membentuk setengah lingkaran. Jenis ini sangat umum di Toraja. Untuk kerbau jantan, jenis ini sangat kuat dalam adu kerbau.
2. tanduk pampang yaitu tanduk yang keluar melebar dan cenderung panjang. Tanduk jenis ini biasanya terbentuk dari kerbau balian. Kerbau yang buah pelernya sengaja dilepas untuk memperindah tanduk.
3. tanduk sikki’ yaitu tanduk yang arahnya hampir sama dengan tarangga namun cenderung merapat bahkan ujungnya nyaris bertemu.
235
4. tanduk sokko yaitu tanduk yang arahnya turun ke bawah dan hampir bertemu di bawah leher. Dengan warna tertentu nilainya menjadi sangat mahal.
5. Tekken Langi’ yakni tanduk yang mengarah secara berlawanan arah, satu ke bawah dan satu ke atas.
5. Berdasarkan Warna
Selain bentuk dan ukuran tanduk, kesempurnaan seekor kerbau ditentukan oleh warnanya. Warna juga menentukan nilai kerbau. Secara garis besar, masyarakat Toraja mengenal tiga kategori warna berikut variasinya: bonga, puduk, dan sambao’.
Dari tiga kategori ini masih terdapat variasi warna. Yang pertama mempunyai nilai relatif mahal, menyusul kedua dan ketiga.
(1) Bonga
Bonga adalah kerbau yang berwarna kombinasi hitam dan putih, diangap paling cantik, harganya puluhan sampai ratusan juta. Kerbau juga dapat ditemukan di masyarakat TO Bada, Sulawesi Tengah, Sumba, Flores, Roti dan Timor (Nooy-Palm, 1979). Namun secara proporsional sangat jarang. Di Toraja sendiri jenis ini sangat jarang. Kelahiran kerbau belang bagi pemiliknya merupakan suatu berkah. Upaya untuk perkawinan silang pun jarang sekali berhasil. Jadi kelahiran bonga sangat kebetulan. Satu kerbau bonga biasanya dinilai antara 10 hingga 20 kerbau hitam. Bonga memiliki beberapa variasi dari segi kombinasi warna dan tanda-tandanya.
a. Bonga saleko atau bonga doti adalah jenis yang warna hitam dan putih hampir seimbang, dan ditandai dengan taburan bintik-bintik di sekujur tubuhnya. Harga bonga Saleko bisa mencapai ratusan juta. Menurut Yunus, Harga pasaran sekarang ini sekitar 350 juta.
b. Bonga sanga’daran adalah jenis yang di bagian mulutnya dinominasi warna hitam c. Bonga Randan dali’ adalah jenis bonga yang alis matanya berwarna hitam.
d. Bonga Takinan Gayang, adalah jenis yang di punggungnya ada warna hitam
menyerupai parang panjang.
e. Bonga ulu adalah jenis yang warna putih hanya di kepalanya, sedang bagian
leher dan badan berwarna hitam.
f. Bonga lotong boko’ adalah jenis bonga yang terdapat warna hitam di punggung
g. Bonga bulan, adalah jenis bonga yang seluruh badannya berwana putih. Jenis ini
lebih murah harganya dibanding pudu’ yang mencapai 20 juta rupaih.
h. Bonga sori, adalah jenis bonga yang warna putih hanya dikepala bagian mata. Jenis
ini harganya jauh lebih murah lagi. (2) Pudu’
Pudu’ umumnya berbadan kekar dan warna hitam. Kerbau jenis ini sangat kuat dalam bertarung. Pada acara adu kerbau pada pesta kematian, kerbau puduk umumnya tampil sebagai petarung yang kuat. Harganya biasanya setengah dari harga bonga.
a. Balian adalah kerbau hitam yang dikeluarkan buah pelernya untuk membentuk tanduk yang modelnya proporsional serta semakin panjang. Makin baik dan panjang tanduknya semakin mahal. Balian yang bagus bisa dihargai 50 jutaan rupiah
b. Pudu’ adalah kerbau yang sangat hitam, dan paling banyak populasinya di Toraja. Harganya bisa mencapai setengah harga saleko.
c. Todik adalah kerbau hitam dengan bintang putih di atas kepalanya (3) Sambao’

Jenis ini adalah yang paling kurang nilainya. Warnanya abu-abu bahkan kecoklatan hampir mendekati warna sapi. Sambao’ adalah kerbau yang warnanya abu- abu dianggap paling murah nilainya.
Selain itu dalam transaksi yang berhubungan dengan kerbau, masyarakat Toraja mengenal ukuran-ukuran.
a. misa’ tedong artinya satu ekor kerbau utuh
b. sang sese tedong atau seperdua kerbau
c. sang tepo tedong atau seperempat kerbau
d. sang leso tedong atau seperenam kerbau
e. sang duluk tedong atau spertigapuluh dua kerbau
f. sang katatae tedong atau seperenampuluh empat kerbau

Sumber: Hasil Penelitian Stepanus BO’DO’ – Kerbau dalam Tradisi Orang Toraja,
The Importance of Water Buffalos in Torajanese Tradition

MENDOKUMENTASIKAN sebelum SEMINAR

Saya beruntung sekali pernah mengenal dan ditemani sambil didokumentaaikan saat seminar di banyak tempat oleh anak muda hebat namanya Ahmad @alammsyah, dia bekerja di Auto 2000, orang teknik yang punya taste fotografi bagus.

Foto di atas adalah salah satu hasil jepretan Alam di kegiatan Seminar Public Speaking di STIKOM CKI di Jakarta Timur April 2019. Saya sudah siap beraksi, slide sudah ditayangkan, moderator belum memulai, saya berbincang dengan salah satu panitia.

Foto itu berbicara banyak, jika anda berkenan untuk nelihat foto-foto lain seminar saya bisa disimak disini, terima kasih Om Alam, semoga Om sukses, sejahtera dunia akherat.