Achmad Alamsyah's Blog

“Maaf Jakarta sayang, aku stuck sama Tanjung Pinang. Jadi setelah Move on dari Tarempa, aku gak langsung ke kamu…”

Hehehe. Nggak deng. Kenapa kutipan diatas terkesan seperti ABG gagal move on, ya? Sudahlah.

Sebelum kembali ke New York-nya Indonesia, saya dan rombongan harus singgah dulu di Tanjung Pinang. And it wasn’t a bad idea. Malah kita senang bisa istirahat sebentar dan mencoba kuliner khas Tanjung Pinang.

Disini kami menginap di Hotel Kaputra selama 1 malam sebelum terbang ke Jakarta besok pagi pukul 7.00

The Last Supper, slurp slurp :9
Ini dia, makanan khas Tanjung Pinang… Gong-gong!
Dan ini almarhumah gong-gong dan otak-otak yang sekarang telah disemayamkan di perut saya

Setelah makan malam terakhir di Tanjung Pinang yang mantap, kami berbincang-bincang dulu sebelum tidur. Menikmati suasana Tanjung Pinang sebelum pada akhirnya harus kembali ke penatnya Jakarta.

It was a nice trip 🙂 An unforgettable moment.

Thanks to:

1. Pak Dedi Dwitagama

View original post 31 more words

Aroma Kopi Subuh di Kedai Kopi Gersa Tarempa Kep Anambas

20120727-055409.jpg
Kedai kopi Gersa Tarempa

20120727-055632.jpg
Teman kopi

20120727-055658.jpg
Hari beranjak siang

waktu belum bergeser ke pukul lima pagi, jamaah sholat subuh mengalir keluar dari Masjid Jamik Baiturrahim Tarempa … sebelum tiba di Pasar Baru Siantan Jalan Hang Tuah Tarempa harum aroma kopi terasa menggoda selera tercium jelas dari
Kedai Kopi Gersa

Ruang berukuran sekitar 5 kali 7 meter bersusun meja persegi ditemani masing-masing empat kursi.

Beberapa meja sudah terisi 8 pria yang menempati 3 meja, jamaah subuh masih kenakan baju koko, kopiah singgah di kedai, memesan kopi dan makanan kecil seperti cakwe, risoles, kue lapis, sejenis lemper, dll. Mereka menyapa pengunjung kedai yang tiba lebih dulu, kemudian mereka larut dalam bincang saling sahut diselingi tawa.

Beberapa penyuplai makanan kecil masuk kedai meletakkan kantong plastik atau wadah berisi aneka makanan yang kemudian disajikan buat pengunjung di piring plastik berukuran sedang yang berisi sekitar 10 macam.

Bapak Lesli sudah sekitar 11 tahun mengelola kedai kopi Gersa sibuk melayani tamu yang terus mengalir makin ramai seiring terbit matahari, mereka datang berkelompok. Bapak Lesli mengatakan yang paling banyak dipesan pengunjung adalah kopi arabika