Kelenteng Tjoe Hwie Kiong di Kota Tahu Kediri

gerbang di sudut jalan

gerbang di sudut jalan

Saat kembali ke Hotel setelah jamuan makan malam di Kediri Saya melewati Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, yang langsung membetot naluri memotret Saya, letak kelenteng itu persis di tikungan Jl. Yos Sudarso Kediri,

Sore hari setelah jalankan tugas Training di BNK Kediri Saya puaskan naluri EOS yang selalu temani perjalanan Saya, sayang sekali saat meminta izin kepada Satpam, Saya hanya boleh foto bagian luar saja, ke dalam tak diperkenankan, sementara untuk mencari pengelola kelenteng Saya tak punya waktu karena harus ke Bandara Juanda Surabaya utk kembali ke Jakarta.

Nuansa naga sangat terasa, warna merah mendominasi, jejek-jejak latihan kesenian dan aroma pagelaran. Menurut Mubarok Rupanya geliat kebangkitan di kelenteng itu kini mulai tampak pasca larangan tersebut dicabut di era Presiden

menyalak lagi

menyalak lagi

Abdurrahman Wahid. Sejak 11 Agustus dan berakhir pada 10 September kemarin digelar pementasan wayang Po Te Hi secara serial di halaman Klenteng. Sebagai dalangnya Kwato (54) satu-satunya dalang wayang Po Te Hi yang masih tersisa di eks Karesidenan Kediri.

Pagelaran wayang ini digelar pada pukul 15.30 hingga 17.00 dan pukul 19.00 hingga 21.00. Lakon yang disampaikan pada masing-masing waktu berbeda. Misalnya, pada waktu siang digelar lakon Sie Bing Kwie (Kuda Wasiat), dan pada waktu malam lakon Ngoho Peng See (Lima Harimau Sakti).

Ja Loen (60) salah satu warga keturunan yang setia menonton pertunjukan wayang Cina ini mengaku senang. Sebab semenjak tahun 1967 ia baru bisa melihat kembali wayang ini pada tahun 2006.

arena

arena

Meski tak banyak yang menonton dan hanya beberapa orang saja, namun setidaknya pegelaran wayang Po Te Hi ini menjadi pemandangan menarik di Klenteng yang ada di Jl. Yos Sudarso Kota Kediri.
“Mumpung ada pertunjukkan maka saya manfaatkan untuk melihat pagelaran ini. Sebab kalau mau nanggap sendiri saya tidak punya uang. Pagelaran ini digelar berkat jasa baik salah satu Direktur PT Gudang Garam,” kata Ja Loen pada RADAR Surabaya.
Namun Ja Loen sebagai generasi tua mengaku takut jika wayang Po Te Hi ini nantinya akan musnah. Sebab di Kediri tak satupun orang yang mewarisi bisa memainkan wayang ini.

merah

merah

“Yang bisa ya hanya orang tertentu, seperti halnya yang main di Klenteng ini . Dia adalah Kwato orang Tulungagung dan jika ini tidak bisa segera diselamatkan, budaya Cina di Indonesia akan musnah,” kuatirnya
Kekuatiran Ja Loen ini terbukti, khususnya Cina peranakan yang memberikan apresiasinya terhadap seni pertunjukan wayang Cina ini masih sangat minim hingga saat ini.

Ternyata dari suatu penelitian Universita Brawijaya Malang yang dipublikasikan Saya mendapatkan foto bangunan sebelumnya bernuansa biru

dulu

dulu biru

tertutup siang itu

tertutup siang itu

Sumber: Mubarok Menulis

Tanjidor

alat tiup

alat tiup

Tret.. tetet dhrong tretetet dung…… trek – dung  – trekdung……dung……dung………dung

Begitulah sayup-sayup terdengar alunan musik etnis Betawi yang lagi mengiringi arak-arakan pengantin sunat di Ciganjur, pinggiran kota Jakarta. Musik khas etnis Betawi lama yang kebanyakan didukung oleh para musisi berusia senja ini melintasi gang-gang sempit dengan semangat baja. Layaknya serdadu yang mau maju perang. Pemandangan macam ini sangat menghibur dan menyenangkan hati  orang yang kebetulan menyaksikan deretan kaum akhir (orang – orang tua) yang  lagi ngejreng dengan alat musik yang sudah tua pula.

dipanggul

dipanggul

Kendati pun “Tanjidor” disebut musik rakyat Betawi, namun instrumennya menggunakan alat musik modern, terutama alat tiup. Seperti trombhon, piston (comet a piston), tenor, klarinet, as, dilengkapi alat musik tabuh membran, yang biasa disebut  tambur atau genderang.

Sejak kapan jenis musik etnis ini mulai menggeliat di tanah Betawi ? Dalam buku “Ikhtisar Kesenian Betawi”, terbitan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, disebutkan sudah tumbuh sejak abad ke-19.  Kegiatan bermusik ini begitu santer dan terus berkembang di pinggiran kota Jakarta. Dalam sejarah perkembangannya, konon jenis musik ini berasal dari orkes yang semula dibina dalam lingkungan tuan-tuan tanah, seperti tuan tanah Citeureup, tak jauh dari Cibinong, pinggiran Jakarta.

Selaras dengan pergeseran zaman, sebagian besar alat musik yang hingga kini masih digunakan termasuk kategori instrumen yang sudah usang dan cacat. Barang bekas yang sudah pada peyot dan penyok-penyok ini toh masih bisa berbunyi. Kendati suaranya kadang-kadang melenceng ke kanan dan ke kiri alias fals.  Saking tuanya, alat musik tersebut sudah ada yang dipatri, dan ada pula yang diikat dengan kawat agar tidak berantakan. Tetapi semua itu tidak mengurangi semangat penabuhnya yang umumnya juga sudah pada lanjut usia.

tak muda  lagi

tak muda lagi

Sekali pernah, kantor Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, menyelenggarakan Festival Tanjidor beberapa waktu lalu di Anjungan DKI, Taman Mini Indonesia Indah. Namun pesertanya tidak sampai belasan, menandakan jenis musik ini mulai berkurang. Menilik sosok perkumpulan musik tersebut hampir sebagian besar pemusiknya sudah tua renta. Kemungkinan penyelenggara ingin tahu sejauh manakah perkembangan musik ini dan siapa pendukungnya ? Tanjidor, masihkah berbunyi ?

Memang, dibandingkan dengan jenis kesenian Betawi lainnya seperti Musik Rebana, Kasidahan, Lenong, Tari Topeng  Betawi dan sejenisnya, boleh dikatakan Tanjidor agak ketingalan. Mat Sani, putra Betawi kelahiran Kramat Pulogundul, dibelakang bioskop Rivoli, Jakarta Pusat, mengatakan, “Anak cucu  keturunan Betawi kagak pada mau ngopenin Tanjidor. Maunya pada ngedangdut melulu. Barangkali itu salah satunye yang bikin Tanjidor kagak mau cepat berkembang”, Tapi barangkali juga karena jaman udah banyak berubah, beginilah jadinya. “Di kampung saya dulu, ada perkumpulan orkes Tanjidor, Lenong dan Ondel-Ondel Bang Rebo, di Gang Piin Kramat Pulo. Tapi sekarang mah dangdut aje yang digede-gedein”, tambahnya. “Tapi nggak tahulah, kemungkinan di wilayah lain masih banyak perkumpulan Tanjidor. Denger-denger sih Tanjidor masih berbunyi. Kebanyakan di pinggiran Jakarta, misalnya di Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung, di wilayah Bogor. Lainnya di Tanggerang, dan Bekasi”. Katanya.

masih ada penerus

masih ada penerus

Sejak dulu memang, Tanjidor  tidak banyak memberi janji sehingga pendukungnya dari tahun ke tahun kian menurun. Selain banyak yang sudah meninggal, pendukungnya sekarang sudah pada uzur. Untuk singgah menjadi seniman orkes Tanjidor memang harus punya bakat di bidang musik modern atau ketrampilan itulah yang membuat orang senang menekuni hobinya. Dari dulu seniman Tanjidor tidak melulu mengandalkan hidup dari musik yang digeluti. Melainkan dari hasil bertani, buruh atau pedagang kecil-kecilan. Bermain musik hanya sebagai sambilan Selain menghibur diri untuk mencari kepuasan batin. Sebab lain kenapa Tanjidor tidak bisa  melesat seperti jenis kesenian Betawi lainnya kemungkinan  karena fungsi ekonmi Tanjidor lemah. Hidup orkes ini tergantung dari saweran  dari penonton. Atau karena ditanggap untuk meramaikan hajatan, sunatan, kawinan dan sebagainya.

Kendati pun keadaan sudah berubah 180 derajat, namun masih ada beberapa perkumpulan Tanjidor di wilayah Jakarta, antara lain tercatat di Cijantung pimpinan Nyaat, Kalisari pimpinan Nawin, Pondokrangon pimpinan Maun dan di Ceger pimpinan Gejen.

serius

serius

Di zaman kuda gigit besi, orkes Tanjidor membawakan lagu-lagu asing, menurut istilah setempat antara lain lagu “Batalion”, “Kramton”, “Bananas”, “Delsi”, “Was Tak Tak”, “Cakranegra”, “Welnes”. Tetapi dalam perkembangannya kemudian lebih banyak membawakan lagu-lagu Betawi, semisal lagu “Surilang”, “Jali-Jali” dan sebagainya. Bahkan selaras dengan perkembangan zaman, orkes Tanjidor sekarang malah lebih asyik membawakan lagu-lagu dangdut. “Yang penting kata Tanjidor harus tetap berbunyi” kata Kamil Shahab, mantan anggota DPRD DKI Jakarta, yang keturunan Arab kelahiran kampung Batuceper Jakarta Pusat.

Lokasi pemotretan: Lebaran Betawi, Lapangan Banteng 18 Oktober 2008.

Sumber: Taman Ismail Marzuki