Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, yaitu dibangun sekitar tahun 1480 Masehi atau semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan.

Menurut tradisi, pembangunan masjid ini dikabarkan melibatkan sekitar lima ratus orang yang didatangkan dari MajapahitDemak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.

Konon, dahulunya masjid ini memiliki memolo atau kemuncak atap. Namun, saat azan pitu (tujuh) salat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar Azan Pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.

Menikmati Belut / Lindung di RM Lembur Parahiyangan seberang Gedung Antam

Awalnya saya tak sengaja mampir makan siang di resto sunda yang ternyata menyediakan menu lindung atau belut goreng bertemam dengan sambal dadak, sayur asem, lalapannya macam-macam (selalu ada leunca – buah seperti terong tapi kecil ukurannya), dan pete.

Ada tumis-tumisan genjer, jamur, ada juga pilihan ikan mas, ikan asin, ayam, banyak lagi deh … di sebelah resto itu ada penjual es kelapa muda buat menutup makan kita, jika juss tomat, mangga, belimbing tak menjadi pilihan.

Saat ini resto dikelola suami istri generasi kedua, dulu ibunya yang memulai usaha, kini mungkin sudah lelah.

Soal harga, jumlah yang kita bayar sesuai dengan rasa nikmat sajian menu plus keringat nikmat respon pedas satu cobek sambal … mau kesana? search aja lokasinya RM Lembur Parahiyangan.