Kerbau & Rumah adat Toraja di Kete Kesu

by @dwitagama Juni 2008

by @dwitagama Juni 2008

Di daerah lain, kerbau mungkin hanya hewan ternak biasa. Namun, di Toraja, Sulawesi Selatan, kerbau punya posisi penting.

Kerbau merupakan lambang kemakmuran di suku Toraja. Tak heran, harga hewan ini bisa melejit hingga ratusan juta rupiah. Seperti yang diperdagangkan di Pasar Bolu, Rantepao, Toraja Utara. Pasar Bolu atau pasar hewan merupakan pusat penjualan kerbau di Toraja yang harganya mulai dari Rp5 juta hingga ratusan juta per ekor.

Suku Toraja kerap menggunakan kerbau dalam upacara adat mereka. Jumlah kerbau yang dikorbankan menjadi salah satu tolak ukur kekayaan keluarga yang menyelenggarakan adat.

Sebagai simbol kemakmuran, tanduk-tanduk kerbau yang sudah dikorbankan kemudian dipasang berjejer di depan rumah tradisional Toraja yang disebut tongkonan. Sumber: vivanews.com

by @dwitagama Juni 2008

by @dwitagama Juni 2008

Jeep & Rumah Adat Toraja di Kete Kesu

by @dwitagama, Juni 2008

by @dwitagama, Juni 2008

Kete Kesu merupakan satu dari sekian banyak lokasi wisata di Kabupaten Toraja Utara yang cukup menarik minat turis manca negara maupun domestik. Setiap wisatawan yang ke Toraja, akan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata yang masih menyimpan panorama kepurbakalaan berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun bahkan lebih tua lagi.

Penjaga Tau tau Tana Toraja

MODEL, DIPERJUAL BELIKAN

PENGAMANAN

SETIA

Tau tau dalah patung terbuat dari kayu yang menjadi simbol bagi orang yang telah dimakamkan secara adat Tana Toraja. Di pemakaman diletakkan menghadap keluar. Rupanya menarik perhatian dan minat banyak fihak, sehingga sering hilang, oleh sebag itu dibuat kerangkeng dan ada petugas khusus yang menjaganya

Kerbau Toraja

TULANG RAHANG KERBAU

SIMBOL STATUS

Kerbau (Bos bubalus) adalah binatang paling penting bagi orang Toraja, salah satu etnis yang di Pulau Sulawesi, Indonesia. Bagi etnis Toraja, khususnya Toraja Sa’dan, kerbau adalah binatang yang paling penting dalam kehidupan sosial mereka. Kerbau atau dalam bahasa setempat tedong atau karembau tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat (Nooy-Palm, 2003). Selain sebagai hewan untuk memenuhi kebutuhan hidup sosial, ritual maupun kepercayaan tradisional, kerbau juga menjadi alat takaran status sosial, dan alat transaksi. Dari sisi sosial, kerbau merupakan harta yang bernilai tinggi bagi pemiliknya (Issudarsono 1976). Tidak mengherankan bila orang Toraja sangat peduli dengan kerbau mereka. Hal ini dapat dilihat dari percakapan sehari-hari, pada saat hendak bertransaksi, mengadakan pesta, dalam praktek keagamaan.

Tongkonan Kete Kesu Tana Toraja

SAAT RINTIK

KIRI KANAN

Rumah adat adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (sampai saat ini sebagian tongkonan meggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Bahkan tongkonan digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan berasal dari kata tongkon(artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (stara sosial Masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (bangah) saat ini sebagian sudah di cor, Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.