Resto TIP TOP Medan

TAMPAK DEPAN

Singgah di Medan belum lengkap jika tak sempat ke Restoran Tip Top. Rumah makan yang sangat sangat melegenda di ibukota Sumatera Utara itu. Yg jadi andalan adalah hidangan es krim yg resepnya dipertahankan dari zaman kolonial hingga sekarang.

TERAS YANG NYAMAN

Lokasi Tip Top berada di Jl. Kesawan atau sekarang bernama Jl. A. Yani, tak jauh dari pusat kota, kira-kira sekitar 15 menitan kalo naik mobil.

Alkisah pada tahun 1929, restoran ini berdiri dengan nama Jangkie. Terus pindah ke Jl. Kesawan tahun 1934, sekaligus ganti nama jadi Tip Top. Yang makan es krim pada jaman itu tentu aja meneer-meneer Eropa van Belanda. Mungkin gak kukuw sama cuaca Indonesia yg panas, jadi mereka doyan makan yg seger2 di resto Tip Top ini.

DESSERT PILIHAN SAYA

Ada Java Ice, es potong yg warnanya coklat. Rasa kopi yg kuat tertera di lidah dari setiap gigitan. Mak Nyus!

OMELET PLUS LIDAH SAPI

Konon sampe sekarang alat-alat masak yg digunakan di dapur masih otentik dari tempo doeloe. Uniform para waiter juga unik, pake baju putih lengan panjang, celana panjang putih plus kopiah diatas kepala. Seperti anak-anak muda yang kibarkan bendera saat upacara kemerdekaan

"PASKIBRA" BERSANDAR

Foto-foto saya lainnya dapat dinikmati disini.

Referensi: iniDJIE.com

Istana Tjong A Fie Medan

KARCIS MASUK

Didirikan pada abad ke-19 di tengah-tengah Kota Medan, dibuka untuk umum itu salah satu tujuannya agar masyarakat khususnya Kota Medan dapat mengetahui perjalanan panjang tokoh multikulturalisme di Sumut itu, juga merupakan bagian dari upaya  membangun perspektif bagi segenap komponen masyarakat terhadap upaya pelestarian budaya etnik, warisan sejarah dan budaya dari seorang tokoh yang dikategorikan sebagai pelopor pengembangan di Sumut.

Selain itu juga memperlihatkan kepada masyarakat umum akan sumbangan dan kepedulian Tjong A Fie terhadap kepentingan religi, budaya dan ekonomi di Medan pada zamannya serta melesatarikan budaya Melayu-Cina.

PINTU GERBANG DI JL. KESAWAN

Tjong A Fie memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap Kota Medan, misalnya dia turut andil dalam pembangunan Masjid Raya Al-Mashum, Istana Maimoon, Kereta Api Deli (DSM), Masjid Gang Bengkok, Gereja di Jalan Uskup Agung Sugiopranoto, Balai Kota Lama, Kuil Budha China di Brayan, Kuil Hindu, dan Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin.

ALTAR

Ia juga tercatat sebagai pendiri Rumah Sakit China pertama di Medan, pendiri Batavia Bank dan Deli Bank. Perkebunan yang dipimpinya memiliki lebih dari 10.000 tenaga kerja dan luas kebunnya mengalahkan luas perkebunan milik Deli Matschapaij yang dirintis oleh Jacobus Nienhuys yang dikenal dengan Peletak Dasar Budaya Perkebunan di Sumatra Utara.

BAGIAN TENGAH ISTANA

Budaya peranakan seperti itu juga sudah mendapat pengakuan seperti halnya yang terdapat di Singapura dan Malaysia terutama di Pulau Pinang dan Malaka.

Foto-foto lainya bisa dinikmati disana.

Sumber: Berita Sore Medan

Pasar buah, sayur dan bunga BERASTAGI

KENAPA HARUS IMPOR

TAK SEDIKIT

Berastagi adalah salahsatu daerah tujuan wisatawan baik mancanegara dan juga wisatawan lokal yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Salahsatu tempat yang menjadi idola para wisatawan adalah pasar buah tradisional Berastagi.

Pasar buah ini tidak jauh dari pusat kota Berastagi, serta pasar ini sangat menarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan karena selalau berlangsung transaksi jual beli hasil pertanian dari petani kepada pembeli.

Seorang pedagang Ardi Ginting kepada Global, Jumat (15/1) mengaku sangat bersyukur bisa berjualan di tempat yang telah disediakan oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Parawisata Tanah Karo.

“Kondisi itu tidak terlepas dari peran bapak Dinasti Sitepu selaku kepala dinas. Beliau sangat peduli kepada para pedagang yang ada, di mana beliau terus berpartisipasi didalam menggerakkan serta memajukan parawisata dikota ini,” ungkapnya.

Bahkan menata areal perparkiran dengan rapi sehingga mobil-mobil para wisatawan bisa langsung masuk ke lokasi pasar. Mereka bisa langsung menuju ke pedagang untuk mengadakan transaksi sayur dan buah.

Sementara itu pantauan Global di Bukit Gundaling, juga terlihat begitu ramai dikunjungi oleh wisatawan dengan canda dan tawa mereka melihat lihat keindahan dan kesejukan kota Berastagi.

Bukit yang ditumbuhi oleh pohon kayu dan juga bunga bungaan yang sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda itu menjadi tempat rekreasi bagi para wisatawan mancanegara dan juga nusantara.

Dari puncak Bukit Gundaling bisa melihat keindahan panorma kota Berastagi yang berjarak 2 Km, Gunung Sibayak dan juga Gunung Sinabung.

Diharapkan, objek wisata itu tetap tertata demi perekonomian warga dan PAD daerah.

Sumber: Harian Global