Foto Dedi Dwitagama 2010 in review by WordPress.com

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

About 3 million people visit the Taj Mahal every year. This blog was viewed about 27,000 times in 2010. If it were the Taj Mahal, it would take about 3 days for that many people to see it.

 

In 2010, there were 199 new posts, growing the total archive of this blog to 439 posts. There were 164 pictures uploaded, taking up a total of 49mb. That’s about 3 pictures per week.

The busiest day of the year was August 19th with 177 views. The most popular post that day was Tari Kecak SMA Canisius.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were dedidwitagama.wordpress.com, facebook.com, search.conduit.com, id.wordpress.com, and blog-indonesia.com.

Some visitors came searching, mostly for tari kecak, ayam aduan, kue rangi, hardiknas, and ternate.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Tari Kecak SMA Canisius November 2008

2

Kraton Kasepuhan Cirebon November 2008
3 comments

3

Tanjidor October 2008
4 comments

4

Ayam aduan TORAJA July 2008

5

Gua Sunyaragi Cirebon July 2009
2 comments

Kelenteng Tjoe Hwie Kiong di Kota Tahu Kediri

gerbang di sudut jalan

gerbang di sudut jalan

Saat kembali ke Hotel setelah jamuan makan malam di Kediri Saya melewati Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, yang langsung membetot naluri memotret Saya, letak kelenteng itu persis di tikungan Jl. Yos Sudarso Kediri,

Sore hari setelah jalankan tugas Training di BNK Kediri Saya puaskan naluri EOS yang selalu temani perjalanan Saya, sayang sekali saat meminta izin kepada Satpam, Saya hanya boleh foto bagian luar saja, ke dalam tak diperkenankan, sementara untuk mencari pengelola kelenteng Saya tak punya waktu karena harus ke Bandara Juanda Surabaya utk kembali ke Jakarta.

Nuansa naga sangat terasa, warna merah mendominasi, jejek-jejak latihan kesenian dan aroma pagelaran. Menurut Mubarok Rupanya geliat kebangkitan di kelenteng itu kini mulai tampak pasca larangan tersebut dicabut di era Presiden

menyalak lagi

menyalak lagi

Abdurrahman Wahid. Sejak 11 Agustus dan berakhir pada 10 September kemarin digelar pementasan wayang Po Te Hi secara serial di halaman Klenteng. Sebagai dalangnya Kwato (54) satu-satunya dalang wayang Po Te Hi yang masih tersisa di eks Karesidenan Kediri.

Pagelaran wayang ini digelar pada pukul 15.30 hingga 17.00 dan pukul 19.00 hingga 21.00. Lakon yang disampaikan pada masing-masing waktu berbeda. Misalnya, pada waktu siang digelar lakon Sie Bing Kwie (Kuda Wasiat), dan pada waktu malam lakon Ngoho Peng See (Lima Harimau Sakti).

Ja Loen (60) salah satu warga keturunan yang setia menonton pertunjukan wayang Cina ini mengaku senang. Sebab semenjak tahun 1967 ia baru bisa melihat kembali wayang ini pada tahun 2006.

arena

arena

Meski tak banyak yang menonton dan hanya beberapa orang saja, namun setidaknya pegelaran wayang Po Te Hi ini menjadi pemandangan menarik di Klenteng yang ada di Jl. Yos Sudarso Kota Kediri.
“Mumpung ada pertunjukkan maka saya manfaatkan untuk melihat pagelaran ini. Sebab kalau mau nanggap sendiri saya tidak punya uang. Pagelaran ini digelar berkat jasa baik salah satu Direktur PT Gudang Garam,” kata Ja Loen pada RADAR Surabaya.
Namun Ja Loen sebagai generasi tua mengaku takut jika wayang Po Te Hi ini nantinya akan musnah. Sebab di Kediri tak satupun orang yang mewarisi bisa memainkan wayang ini.

merah

merah

“Yang bisa ya hanya orang tertentu, seperti halnya yang main di Klenteng ini . Dia adalah Kwato orang Tulungagung dan jika ini tidak bisa segera diselamatkan, budaya Cina di Indonesia akan musnah,” kuatirnya
Kekuatiran Ja Loen ini terbukti, khususnya Cina peranakan yang memberikan apresiasinya terhadap seni pertunjukan wayang Cina ini masih sangat minim hingga saat ini.

Ternyata dari suatu penelitian Universita Brawijaya Malang yang dipublikasikan Saya mendapatkan foto bangunan sebelumnya bernuansa biru

dulu

dulu biru

tertutup siang itu

tertutup siang itu

Sumber: Mubarok Menulis

Tanjidor

alat tiup

alat tiup

Tret.. tetet dhrong tretetet dung…… trek – dung  – trekdung……dung……dung………dung

Begitulah sayup-sayup terdengar alunan musik etnis Betawi yang lagi mengiringi arak-arakan pengantin sunat di Ciganjur, pinggiran kota Jakarta. Musik khas etnis Betawi lama yang kebanyakan didukung oleh para musisi berusia senja ini melintasi gang-gang sempit dengan semangat baja. Layaknya serdadu yang mau maju perang. Pemandangan macam ini sangat menghibur dan menyenangkan hati  orang yang kebetulan menyaksikan deretan kaum akhir (orang – orang tua) yang  lagi ngejreng dengan alat musik yang sudah tua pula.

dipanggul

dipanggul

Kendati pun “Tanjidor” disebut musik rakyat Betawi, namun instrumennya menggunakan alat musik modern, terutama alat tiup. Seperti trombhon, piston (comet a piston), tenor, klarinet, as, dilengkapi alat musik tabuh membran, yang biasa disebut  tambur atau genderang.

Sejak kapan jenis musik etnis ini mulai menggeliat di tanah Betawi ? Dalam buku “Ikhtisar Kesenian Betawi”, terbitan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, disebutkan sudah tumbuh sejak abad ke-19.  Kegiatan bermusik ini begitu santer dan terus berkembang di pinggiran kota Jakarta. Dalam sejarah perkembangannya, konon jenis musik ini berasal dari orkes yang semula dibina dalam lingkungan tuan-tuan tanah, seperti tuan tanah Citeureup, tak jauh dari Cibinong, pinggiran Jakarta.

Selaras dengan pergeseran zaman, sebagian besar alat musik yang hingga kini masih digunakan termasuk kategori instrumen yang sudah usang dan cacat. Barang bekas yang sudah pada peyot dan penyok-penyok ini toh masih bisa berbunyi. Kendati suaranya kadang-kadang melenceng ke kanan dan ke kiri alias fals.  Saking tuanya, alat musik tersebut sudah ada yang dipatri, dan ada pula yang diikat dengan kawat agar tidak berantakan. Tetapi semua itu tidak mengurangi semangat penabuhnya yang umumnya juga sudah pada lanjut usia.

tak muda  lagi

tak muda lagi

Sekali pernah, kantor Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, menyelenggarakan Festival Tanjidor beberapa waktu lalu di Anjungan DKI, Taman Mini Indonesia Indah. Namun pesertanya tidak sampai belasan, menandakan jenis musik ini mulai berkurang. Menilik sosok perkumpulan musik tersebut hampir sebagian besar pemusiknya sudah tua renta. Kemungkinan penyelenggara ingin tahu sejauh manakah perkembangan musik ini dan siapa pendukungnya ? Tanjidor, masihkah berbunyi ?

Memang, dibandingkan dengan jenis kesenian Betawi lainnya seperti Musik Rebana, Kasidahan, Lenong, Tari Topeng  Betawi dan sejenisnya, boleh dikatakan Tanjidor agak ketingalan. Mat Sani, putra Betawi kelahiran Kramat Pulogundul, dibelakang bioskop Rivoli, Jakarta Pusat, mengatakan, “Anak cucu  keturunan Betawi kagak pada mau ngopenin Tanjidor. Maunya pada ngedangdut melulu. Barangkali itu salah satunye yang bikin Tanjidor kagak mau cepat berkembang”, Tapi barangkali juga karena jaman udah banyak berubah, beginilah jadinya. “Di kampung saya dulu, ada perkumpulan orkes Tanjidor, Lenong dan Ondel-Ondel Bang Rebo, di Gang Piin Kramat Pulo. Tapi sekarang mah dangdut aje yang digede-gedein”, tambahnya. “Tapi nggak tahulah, kemungkinan di wilayah lain masih banyak perkumpulan Tanjidor. Denger-denger sih Tanjidor masih berbunyi. Kebanyakan di pinggiran Jakarta, misalnya di Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung, di wilayah Bogor. Lainnya di Tanggerang, dan Bekasi”. Katanya.

masih ada penerus

masih ada penerus

Sejak dulu memang, Tanjidor  tidak banyak memberi janji sehingga pendukungnya dari tahun ke tahun kian menurun. Selain banyak yang sudah meninggal, pendukungnya sekarang sudah pada uzur. Untuk singgah menjadi seniman orkes Tanjidor memang harus punya bakat di bidang musik modern atau ketrampilan itulah yang membuat orang senang menekuni hobinya. Dari dulu seniman Tanjidor tidak melulu mengandalkan hidup dari musik yang digeluti. Melainkan dari hasil bertani, buruh atau pedagang kecil-kecilan. Bermain musik hanya sebagai sambilan Selain menghibur diri untuk mencari kepuasan batin. Sebab lain kenapa Tanjidor tidak bisa  melesat seperti jenis kesenian Betawi lainnya kemungkinan  karena fungsi ekonmi Tanjidor lemah. Hidup orkes ini tergantung dari saweran  dari penonton. Atau karena ditanggap untuk meramaikan hajatan, sunatan, kawinan dan sebagainya.

Kendati pun keadaan sudah berubah 180 derajat, namun masih ada beberapa perkumpulan Tanjidor di wilayah Jakarta, antara lain tercatat di Cijantung pimpinan Nyaat, Kalisari pimpinan Nawin, Pondokrangon pimpinan Maun dan di Ceger pimpinan Gejen.

serius

serius

Di zaman kuda gigit besi, orkes Tanjidor membawakan lagu-lagu asing, menurut istilah setempat antara lain lagu “Batalion”, “Kramton”, “Bananas”, “Delsi”, “Was Tak Tak”, “Cakranegra”, “Welnes”. Tetapi dalam perkembangannya kemudian lebih banyak membawakan lagu-lagu Betawi, semisal lagu “Surilang”, “Jali-Jali” dan sebagainya. Bahkan selaras dengan perkembangan zaman, orkes Tanjidor sekarang malah lebih asyik membawakan lagu-lagu dangdut. “Yang penting kata Tanjidor harus tetap berbunyi” kata Kamil Shahab, mantan anggota DPRD DKI Jakarta, yang keturunan Arab kelahiran kampung Batuceper Jakarta Pusat.

Foto: Dedi Dwitagama
Lokasi pemotretan: Lebaran Betawi, Lapangan Banteng 18 Oktober 2008.
Teks : Taman Ismail Marzuki

Adzan Tujuh

3 Okt 2008

Di Masjid Kasepuhan Cirebon

Inilah tradisi adzan pitu di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon. Adzan dikumandangkan serentak oleh tujuh orang muadzin pilihan di masjid peninggalan Sunan Gunungjati. Suasana terasa khusuk saat koor panggilan sholat berkumandang.

Tradisi ini telah berlangsung sejak lima ratus tahun lalu. Dahulu, adzan pitu dilantunkan setiap waktu sholat, namun kini hanya dilakukan pada saat sholat Jumat saja, pada azan pertama.
Konon, adzan pitu merupakan titah Sunan Gunungjati untuk mengalahkan pendekar jahat berilmu hitam bernama Menjangan Wulung.

Saat itu, Menjangan Wulung bertengger di kubah masjid, dan menyerang setiap orang yang melantunkan adzan maupun hendak sholat. Setiap muadzin yang melantunkan adzan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung. Menjangan Wulung tidak senang dengan penyebaran agama Islam, dan ingin menghambatnya.

Kondisi ini membuat resah umat Islam. Setelah Sunan Gunungjati bermusyawarah dengan para tetua dan memohon petunjuk dari Allah, muncullah jalan keluar, yakni tujuh orang melantunkan adzan sekaligus. Menjangan Wulung akhirnya musnah setelah adzan dilantunkan oleh tujuh orang.

Tujuh orang yang melantunkan adzan ini merupakan pengurus masjid yang telah dipilih penghulu masjid. Meski tak ada persyaratan khusus, namun sebagian besar muadzin merupakan keturunan dari muadzin adzan pitu sebelumnya. Mereka mengaku, mendapat ketenangan dan lebih khusuk beridadah sejak menjadi muadzin adzan pitu.

Selain adzan pitu, masjid yang didirikan Sunan Gunungjati tahun 1478 ini memiliki sejumlah keunikan lain. Diantaranya adalah tempat wudhu dengan mata air yang tak pernah kering. Sejumlah warga bahkan mengambil air yang disebut Banyu Cis ini untuk dijadikan obat berbagai penyakit manusia dan kesuburan sawah.

Masjid Sang Cipta Rasa ini juga dikenal sebagai masjid kasepuhan, karena berada di lingkungan Keraton Kasepuhan. Meskipun masjid ini telah dipugar beberapa kali, namun sebagian besar bangunannya masih asli.

Ada banyak

Ada banyak

Di dalam masjid terdapat tiang yang disebut saka tatal. Tiang ini dibuat oleh Sunan Gunungjati dari sisa-sisa kayu yang disatukan. Lewat tiang ini, Sunan Gunungjati memberi pesan bahwa persatuan yang kokoh, bisa menopang beban seberat apapun.

Pintu masjid dibuat rendah, hanya seukuran badan manusia. Sehingga siapapun yang masuk atau keluar masjid, harus merunduk. Maknanya adalah, saat beribadah di hadapan Tuhan, manusia tidak boleh sombong.

Di dalam masjid terdapat dua pagar, yakni di bagian kanan depan dan kiri belakang. Dua ruangan khusus ini hanya boleh diisi oleh keluarga Sultan Kasepuhan dan Sultan Kanoma, dua kesultanan yang masih bertahan di Cirebon.

Saat bulan puasa, tak hanya warga Cirebon yang beribadah di masjid ini. Sejumlah peziarah maupun warga dari luar kota memperoleh pengalaman spiritual saat beribadah di masjid ini. (Helmi Azahari/Sup)

Sumber: Indosiar