Menara Majid Pertamina Klayan Cirebon

2 Januari 2019

Advertisements

Wisata Kura-kura Purba Belawa Cirebon

DI LEMAH ABANG DEKAT SINDANG LAUT
TEMPAT TINGGAL KURA-KURA
MASIH ADA
TEMPAT YANG BERPULANG

Awal September 2011.

Docang; makanan khas Cirebon

DOCANG ITU

Docang adalah makanan khas Cirebon, yang merupakan perpaduan dari Lontong, Daun Singkong, Toge, Krupuk yang berkolaborasi sayur Dage/Tempe Gembos (yang dihancurkan) serta di kombinasikan dengan parutan kelapa muda.

PAGI HARI

Makanan ini mempunyai rasa khas yang gurih dan nikmat apabila disajikan dalam keadaan panas/hangat dan untuk harga relatif terjangkau semua kalangan, docang adalah makanan asli Cirebon yang masih bisa anda temui di depan Hotel Family di belokan Stasiun Kejaksaan Cirebon. Selamat menikmati.

SARAPAN

Bahan Docang

Bahan-bahan yang diperlukan:
2 ikat daun singkong
1 ikat kangkung
150 gr tauge
500 cc air, untuk merebus sayur
4 butir bawang merah
4 buah cabai merah
1 sendok teh terasi
2 sendok makan minyak goreng untuk menumis
100 gr tempe, ditumbuk halus
800 cc air atau kaldu
1 sendok teh garam (secukupnya)
1 sendok teh gula merah

Pelengkap:

4 buah ketupat
4 sendok makan bawang goreng
Kerupuk merah goreng
Sambal terasi

Cara Membuat Docang

Daun singkong dan daun kangkung dipetik-petik dan direbus hingga matang. Tauge direndam air bekas merebus sayur hingga layu. Tiriskan.
Haluskan bawang merah, cabai merah, dan cabai. Kemudian ditumis hingga harum. Tambahkan tempe dan tuangkan air, didihkan. Bumbui dengan garam dan gula merah.

Jika akan menyajikan: Ketupat dipotong-potong serasi, tambahkan sayuran secukupnya, kemudian siram atasnya dengan kuah tempe. Taburi bawang goreng, kerupuk merah, dan sambal terasi.

Sumber: http://reseprecipe.com/

Batik Trusmi Cirebon Juli 2010

KATUN MENTAH SIAP DIBATIK
ENDING PROSES
WELLCOME DRINK AND SNACK
RUMAH BATIK
RELAKS MEMILIH
SETELAH DIPILIH
TIPS MERAWAT BATIK

Kembali antarkan istri tercinta belajar bisnis batik, nikmati kerajinan penduduk negeri … ending dari silaturahmi dengan orang tua di Sindang Laut isi liburan bersama anak-anak tercinta, tetap puaskan hobi Foto dan kabarkan keindahan dan potensi negeri ke dunia … ayo belanja batik di Trusmi Cirebon, cuma 10 menit dari Terminal Bis Cirebon dan 15 menit dari stasiun Kereta Api Kejaksaan.

WAJAH di stasiun kejaksaan cirebon

by dedi dwitagama 311209
KTP-nya tak perlu diperpanjang,
karena sudah berlaku seumur hidup
pagi hari belanja ke Plered
lalu mangkal di emplasmen stasiun

“Tolong sampaikan salam Saya pada Presiden SBY”
rupanya nenek penjual buah itu
telah salaman dengan presiden dan istrinya
titip pesan agar Presiden memberinya makan …

Stasiun Kereta Cirebon

by Dedi Dwitagama, 31 Des 2009
di dalam

Stasiun Cirebon (CN) merupakan sebuah stasiun kereta api yang terletak di Jl. Siliwangi,Kebonbaru, Kejaksan, Cirebon. Karena terletak di kelurahan Kejaksan, Stasiun Cirebon terkadang disebut juga Stasiun Kejaksan. Stasiun yang terletak di Daerah Operasi III Cirebon ini terletak pada ketinggian 4 m di atas permukaan laut.

Stasiun Cirebon termasuk ke dalam stasiun jalur utara. Di stasiun ini terdapat percabangan jalur kePurwokerto, yang akan berhubungan dengan jalur lintas selatan di Kroya. Kereta api kelas eksekutif dan bisnis berhenti di stasiun ini. Sedangkan kereta api kelas ekonomi berhenti di Stasiun Cirebon Prujakan untuk jalur utara, sementara KA kelas ekonomi jalur selatan berhenti di stasiun ini. Dahulu terdapat percabangan rel dari Stasiun Cirebon menuju Kadipaten, Majalengka dan Cirebon Pelabuhan.

Gedung Stasiun Cirebon yang sekarang dibangun pada tahun 1920 berdasarkan karya arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen(18791955) dalam gaya arsitektur campuran art nouveau dengan art deco. Dua “menara”-nya yang sekarang ada tulisan CIREBON dulu ada tulisan KAARTJES (karcis) di sebelah kiri dan BAGAGE (bagasi) di sebelah kanan.

membatasi rel
nuansa Belanda sangat terasa

Foto-foto: Dedi Dwitagama, 31 Desember 2009.
Teks: Wikipedia

Empal Gentong MANG KOJEK

tulang belulang
tulang belulang
Makanan mirip soto yang berkuah kental dan bersantan serta dipenuhi dengan daging ini sungguh lezat…. Biasa dimakan dengan nasi ataupun lontong. Yang khas adalah wadah tempat menaruh kuah empal ini yang berada di sebuah gentong makanya dinamakan empal gentong sementara empal adalah potongan-potongan daging.

Empal gentong mang kojek, materialnya kaki sapi yang dibakar, sehingga ada aroma khas saat kita menyantapnya.

dekat masjid skitar trusmi
dekat masjid skitar trusmi

Cara masaknya pun masih tradisional karena masih mengandalkan kayu bakar. Sambal empal gentong ini sangatlah pedas sebab merupakan saripati cabai merah kering yang dikemudian ditumbuk. Bagi yang belum terbiasa, agar hati-hati mencobanya sebab bila perut tidak kuat maka acara makan-makan bisa terhambat.

Lokasinya tak jauh dari lokasi pusat pedagang batik Trusmi, di Jl. Raya Fatahilah yang menuju Sumber, setelah Mesjid Agung ada spanduk besar bertuliskan Empal Gentong Bang Kojek. Uenak tenan … Mak Nyus …. !

Gua Sunyaragi Cirebon

suatu Cagar Budaya Indonesia yang unik. Sunyaragi berlokasi di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon dimana terdapat bangunan mirip candi yang disebut Gua Sunyaragi, atau Taman Air Sunyaragi, atau sering disebut sebgaai Tamansari Sunyaragi. Nama “Sunyaragi” berasal dari kata “sunya” yang artinya adalah sepi dan “ragi” yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sansekerta. Tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

9 juli 2009
foto by; dedi dwitagama - 9 juli 2009

Gua Sunyaragi merupakan salah satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon dengan luas sekitar 15 hektar. Objek cagar budaya ini berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, Cirebon. Konstruksi dan komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air. Karena itu Gua Sunyaragi disebut taman air gua Sunyaragi. Pada zaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati. Lokasi dimana dulu terdapat Danau Jati saat ini sudah mengering dan dilalui jalan by pass Brigjen Dharsono, sungai Situngkul, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas, Sunyaragi milik PLN, persawahan dan menjadi pemukiman penduduk. Selain itu di gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias, dan hiasan taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, dan Patung Garuda. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati sekarang bernama keraton Kasepuhan.

9 juli 2009
foto by; dedi dwitagama - 9 juli 2009

Lukisan artis tentang gua Sunyaragi

Kompleks tamansari Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar komplek aku bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa.

Induk seluruh gua bernama Gua Peteng (Gua Gelap) yang digunakan untuk bersemadi. Selain itu ada Gua Pande Kemasan yang khusus digunakan untuk bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat penyimpanannya. Perbekalan dan makanan prajurit disimpan di Gua Pawon. Gua Pengawal yang berada di bagian bawah untuk tempat berjaga para pengawal. Saat Sultan menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, akan tetapi kala Sultan beristirahat di Mande Beling. Sedang Gua Padang Ati (Hati Terang), khusus tempat bertapa para Sultan.

9 juli 2009
foto by; dedi dwitagama - 9 juli 2009

Continue reading Gua Sunyaragi Cirebon

Adzan Tujuh

3 Okt 2008
Di Masjid Kasepuhan Cirebon

Inilah tradisi adzan pitu di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon. Adzan dikumandangkan serentak oleh tujuh orang muadzin pilihan di masjid peninggalan Sunan Gunungjati. Suasana terasa khusuk saat koor panggilan sholat berkumandang.

Tradisi ini telah berlangsung sejak lima ratus tahun lalu. Dahulu, adzan pitu dilantunkan setiap waktu sholat, namun kini hanya dilakukan pada saat sholat Jumat saja, pada azan pertama.
Konon, adzan pitu merupakan titah Sunan Gunungjati untuk mengalahkan pendekar jahat berilmu hitam bernama Menjangan Wulung.

Saat itu, Menjangan Wulung bertengger di kubah masjid, dan menyerang setiap orang yang melantunkan adzan maupun hendak sholat. Setiap muadzin yang melantunkan adzan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung. Menjangan Wulung tidak senang dengan penyebaran agama Islam, dan ingin menghambatnya.

Kondisi ini membuat resah umat Islam. Setelah Sunan Gunungjati bermusyawarah dengan para tetua dan memohon petunjuk dari Allah, muncullah jalan keluar, yakni tujuh orang melantunkan adzan sekaligus. Menjangan Wulung akhirnya musnah setelah adzan dilantunkan oleh tujuh orang.

Tujuh orang yang melantunkan adzan ini merupakan pengurus masjid yang telah dipilih penghulu masjid. Meski tak ada persyaratan khusus, namun sebagian besar muadzin merupakan keturunan dari muadzin adzan pitu sebelumnya. Mereka mengaku, mendapat ketenangan dan lebih khusuk beridadah sejak menjadi muadzin adzan pitu.

Selain adzan pitu, masjid yang didirikan Sunan Gunungjati tahun 1478 ini memiliki sejumlah keunikan lain. Diantaranya adalah tempat wudhu dengan mata air yang tak pernah kering. Sejumlah warga bahkan mengambil air yang disebut Banyu Cis ini untuk dijadikan obat berbagai penyakit manusia dan kesuburan sawah.

Masjid Sang Cipta Rasa ini juga dikenal sebagai masjid kasepuhan, karena berada di lingkungan Keraton Kasepuhan. Meskipun masjid ini telah dipugar beberapa kali, namun sebagian besar bangunannya masih asli.

Ada banyak
Ada banyak

Di dalam masjid terdapat tiang yang disebut saka tatal. Tiang ini dibuat oleh Sunan Gunungjati dari sisa-sisa kayu yang disatukan. Lewat tiang ini, Sunan Gunungjati memberi pesan bahwa persatuan yang kokoh, bisa menopang beban seberat apapun.

Pintu masjid dibuat rendah, hanya seukuran badan manusia. Sehingga siapapun yang masuk atau keluar masjid, harus merunduk. Maknanya adalah, saat beribadah di hadapan Tuhan, manusia tidak boleh sombong.

Di dalam masjid terdapat dua pagar, yakni di bagian kanan depan dan kiri belakang. Dua ruangan khusus ini hanya boleh diisi oleh keluarga Sultan Kasepuhan dan Sultan Kanoma, dua kesultanan yang masih bertahan di Cirebon.

Saat bulan puasa, tak hanya warga Cirebon yang beribadah di masjid ini. Sejumlah peziarah maupun warga dari luar kota memperoleh pengalaman spiritual saat beribadah di masjid ini. (Helmi Azahari/Sup)

Sumber: Indosiar