Kopiah Betawi

Keriaan Betawi di #gerbangbetawi depan stasiun kereta Jatinegara 261017

Advertisements

Tanjidor

alat tiup
alat tiup

Tret.. tetet dhrong tretetet dung…… trek – dung  – trekdung……dung……dung………dung

Begitulah sayup-sayup terdengar alunan musik etnis Betawi yang lagi mengiringi arak-arakan pengantin sunat di Ciganjur, pinggiran kota Jakarta. Musik khas etnis Betawi lama yang kebanyakan didukung oleh para musisi berusia senja ini melintasi gang-gang sempit dengan semangat baja. Layaknya serdadu yang mau maju perang. Pemandangan macam ini sangat menghibur dan menyenangkan hati  orang yang kebetulan menyaksikan deretan kaum akhir (orang – orang tua) yang  lagi ngejreng dengan alat musik yang sudah tua pula.

dipanggul
dipanggul

Kendati pun “Tanjidor” disebut musik rakyat Betawi, namun instrumennya menggunakan alat musik modern, terutama alat tiup. Seperti trombhon, piston (comet a piston), tenor, klarinet, as, dilengkapi alat musik tabuh membran, yang biasa disebut  tambur atau genderang.

Sejak kapan jenis musik etnis ini mulai menggeliat di tanah Betawi ? Dalam buku “Ikhtisar Kesenian Betawi”, terbitan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, disebutkan sudah tumbuh sejak abad ke-19.  Kegiatan bermusik ini begitu santer dan terus berkembang di pinggiran kota Jakarta. Dalam sejarah perkembangannya, konon jenis musik ini berasal dari orkes yang semula dibina dalam lingkungan tuan-tuan tanah, seperti tuan tanah Citeureup, tak jauh dari Cibinong, pinggiran Jakarta.

Selaras dengan pergeseran zaman, sebagian besar alat musik yang hingga kini masih digunakan termasuk kategori instrumen yang sudah usang dan cacat. Barang bekas yang sudah pada peyot dan penyok-penyok ini toh masih bisa berbunyi. Kendati suaranya kadang-kadang melenceng ke kanan dan ke kiri alias fals.  Saking tuanya, alat musik tersebut sudah ada yang dipatri, dan ada pula yang diikat dengan kawat agar tidak berantakan. Tetapi semua itu tidak mengurangi semangat penabuhnya yang umumnya juga sudah pada lanjut usia.

tak muda  lagi
tak muda lagi

Sekali pernah, kantor Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, menyelenggarakan Festival Tanjidor beberapa waktu lalu di Anjungan DKI, Taman Mini Indonesia Indah. Namun pesertanya tidak sampai belasan, menandakan jenis musik ini mulai berkurang. Menilik sosok perkumpulan musik tersebut hampir sebagian besar pemusiknya sudah tua renta. Kemungkinan penyelenggara ingin tahu sejauh manakah perkembangan musik ini dan siapa pendukungnya ? Tanjidor, masihkah berbunyi ?

Memang, dibandingkan dengan jenis kesenian Betawi lainnya seperti Musik Rebana, Kasidahan, Lenong, Tari Topeng  Betawi dan sejenisnya, boleh dikatakan Tanjidor agak ketingalan. Mat Sani, putra Betawi kelahiran Kramat Pulogundul, dibelakang bioskop Rivoli, Jakarta Pusat, mengatakan, “Anak cucu  keturunan Betawi kagak pada mau ngopenin Tanjidor. Maunya pada ngedangdut melulu. Barangkali itu salah satunye yang bikin Tanjidor kagak mau cepat berkembang”, Tapi barangkali juga karena jaman udah banyak berubah, beginilah jadinya. “Di kampung saya dulu, ada perkumpulan orkes Tanjidor, Lenong dan Ondel-Ondel Bang Rebo, di Gang Piin Kramat Pulo. Tapi sekarang mah dangdut aje yang digede-gedein”, tambahnya. “Tapi nggak tahulah, kemungkinan di wilayah lain masih banyak perkumpulan Tanjidor. Denger-denger sih Tanjidor masih berbunyi. Kebanyakan di pinggiran Jakarta, misalnya di Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung, di wilayah Bogor. Lainnya di Tanggerang, dan Bekasi”. Katanya.

masih ada penerus
masih ada penerus

Sejak dulu memang, Tanjidor  tidak banyak memberi janji sehingga pendukungnya dari tahun ke tahun kian menurun. Selain banyak yang sudah meninggal, pendukungnya sekarang sudah pada uzur. Untuk singgah menjadi seniman orkes Tanjidor memang harus punya bakat di bidang musik modern atau ketrampilan itulah yang membuat orang senang menekuni hobinya. Dari dulu seniman Tanjidor tidak melulu mengandalkan hidup dari musik yang digeluti. Melainkan dari hasil bertani, buruh atau pedagang kecil-kecilan. Bermain musik hanya sebagai sambilan Selain menghibur diri untuk mencari kepuasan batin. Sebab lain kenapa Tanjidor tidak bisa  melesat seperti jenis kesenian Betawi lainnya kemungkinan  karena fungsi ekonmi Tanjidor lemah. Hidup orkes ini tergantung dari saweran  dari penonton. Atau karena ditanggap untuk meramaikan hajatan, sunatan, kawinan dan sebagainya.

Kendati pun keadaan sudah berubah 180 derajat, namun masih ada beberapa perkumpulan Tanjidor di wilayah Jakarta, antara lain tercatat di Cijantung pimpinan Nyaat, Kalisari pimpinan Nawin, Pondokrangon pimpinan Maun dan di Ceger pimpinan Gejen.

serius
serius

Di zaman kuda gigit besi, orkes Tanjidor membawakan lagu-lagu asing, menurut istilah setempat antara lain lagu “Batalion”, “Kramton”, “Bananas”, “Delsi”, “Was Tak Tak”, “Cakranegra”, “Welnes”. Tetapi dalam perkembangannya kemudian lebih banyak membawakan lagu-lagu Betawi, semisal lagu “Surilang”, “Jali-Jali” dan sebagainya. Bahkan selaras dengan perkembangan zaman, orkes Tanjidor sekarang malah lebih asyik membawakan lagu-lagu dangdut. “Yang penting kata Tanjidor harus tetap berbunyi” kata Kamil Shahab, mantan anggota DPRD DKI Jakarta, yang keturunan Arab kelahiran kampung Batuceper Jakarta Pusat.

Foto: Dedi Dwitagama
Lokasi pemotretan: Lebaran Betawi, Lapangan Banteng 18 Oktober 2008.
Teks : Taman Ismail Marzuki

Kue RANGI Betawi

foto by; dedi dwitagama
foto by; dedi dwitagama
foto by; dedi dwitagama

Bagi Anda, terutama bukan penduduk Jakarta, kue rangi mungkin terdengar asing. Bentuknya mirip kue pancong atau bandros, ukurannya saja yang lebih kecil. Rasanya jauh berbeda karena kue rangi dibuat dari bahan yang sederhana. Cuma campuran tepung kanji dan kelapa parut. Setelah dipanggang, kue disajikan dengan larutan gula merah.
Harganya relatif sangat murah. Hanya Rp 100 tiap sekat atau Rp 1.000 tiap lembar yang terdiri dari 12 sekat kue. Tetapi jangan tanya perjuangan untuk mendapatkannya. Beruntung sekali Saya sering menjumpai penjual Kue Rangi yang tinggal di Kampung Jembatan dekat Hero Pondok Bambu.

Sumber: Sedap Sekejap

Continue reading Kue RANGI Betawi