Museum Linggar Jati Cirebon Soekarno pernah singgah

DUDUK TEDUH WALAU PANAS

SUKARNO DUDUK DISINI

Foto by Dedi Dwitagama, Awal September 2011.

Linggadjati was niet alleen een verhaal over landen. Het was een verhaal over mensen. Sjahrir, Schermerhorn, Lord Killearn, van Mook, visionairs, realisten…
Joty ter Kulve-van Os

Linggarjati kota kecil di kaki Gunung Ciremai, sebelah selatan Cirebon. Di sini, di sebuah rumah yang sejak 1985 menyandang nama resmi Gedung Perundingan Linggarjati pernah berlangsung perundingan antara Indonesia dan Belanda (11-12 November 1946).

Gedung ini atau disebut juga Museum Linggarjati telah direnovasi. Kini berdiri tegak sebagai saksi sejarah tentang Indonesia yang mencintai kemerdekaan, dan melalui sosok Bung Sjahrir serta kegigihan diplomasinya, juga adalah Indonesia yang mencintai damai.
His idea of achieving sovereignty by peaceful means constituted a praiseworthy moral approach.Syahrir the real/genuine diplomat
Dr.R.Z.Leirissa
Memasuki ruang tamu Museum Linggarjati, segera kita akan menyaksikan ruang perundingan. Barisan kursi di sebelah kiri ditempati pihak Indonesia, dipimpin oleh perdana menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir. Bertindak sebagai mediator adalah diplomat Inggris Lord Killearn (Utusan Khusus Inggris untuk Asia Tenggara, berkedudukan di Singapura). Barisan kursi sebelah kanan diduduki pihak Belanda.
Selama berlangsungnya perundingan, Museum Linggarjati juga berfungsi sebagai tempat menginap Lord Killearn dan beberapa delegasi Belanda (Schermerhorn, Ivo Samkalden, P.Sanders. Letnan Gubernur Jenderal van Mook dan anggota delegasi lainnya lagi menginap di Kapal Perang Banckert). Sedangkan delegasi Indonesia menginap di rumah Bung Sjahrir di Linggasana, desa tetangga Linggarjati, sekitar 20-25 menit jalan kaki dari Museum.

Di ruang perundingan terpasang dokumentasi peristiwa di seputar perundingan Linggarjati. Foto-foto tersebut diperoleh dari Kedutaan Belanda. Diantaranya adalah foto wartawan mancanegara mengetik naskah berita di pagar tangga kediaman Bung Sjahrir di Linggasana.
Diantara dokumentasi yang meninggalkan kesan adalah Bung Sjahrir dan W.Schermerhorn (ketua delegasi Belanda) di sofa ruang tamu kediaman Bung Sjahrir di Jl. Pegangsaan Timur no.56, Jakarta, memaraf Naskah Perjanjian Linggarjati dalam bahasa Belanda pada 15 November 1946 (Naskah bahasa Indonesia dan Inggris diparaf pada 18 November di Istana Negara, Jakarta. Secara resmi Perjanjian Linggarjati ditandatangani pada 25 Maret 1947 di Istana Negara*).
Mengapa.
Karena foto ini katakan satu hal: kesetaraan, satu kedudukan. Indonesia yang diwakili oleh Bung Sjahrir adalah bangsa dengan kedudukan yang sederajat dengan Belanda dan utuh memiliki kehormatannya. Berdiplomasi untuk memenangkan kemerdekaan tetapi adalah Indonesia yang tak tunduk.

Namun akhirnya, adalah kegigihan yang paling mengagumkan dari pria berperawakan kecil kelahiran Padang Panjang ini bagiku. Gigih untuk percaya bahwa kita mesti memenangkan kemerdekaan dengan cara-cara yang berkemanusiaan sebab dengan demikian maka kemerdekaan kita akan menjadi obor bagi bangsa dan dunia. Iya! Mari hidup kita menangkan dengan nurani dan akal sehat sehingga terang akan dapat penuhi takdirnya. Sebagaimana satu dari founding fathers bangsa ini telah berusaha menunjukkannya kepada kita.
‘Dunia penuh dengan pertentangan, penuh dengan bahaya perjuangan, dunia gelap. Di Indonesia kita menyalakan obor kecil, obor kemanusiaan, obor akal yang sehat yang hendak menghilangkan suasana gelap…Marilah kita pelihara obor ini, supaya dapat menyala terus serta menjadi lebih terang. Mudah-mudahan ia akan merupaka permulaan terang di seluruh dunia.’
Pidato Perdana Menteri Sutan Sjahrir
(usai penandatanganan Perjanjian Linggarjati)
Jakarta, 25 Maret 1947
Sungguh. Jika India memiliki Mahatma Gandhi, maka di Indonesia dia adalah Bung Sjahrir, dan Linggarjati adalah bagian dari sejarah dimana manusia mencoba berdamai dengan sesama, bahkan penjajahnya. Sekaligus juga bagian dari suatu hari dalam perjalanan sejarah ketika kita tak hanya percaya hidup itu berharga, tetapi memperjuangkannya.

Gedung Perundingan Linggarjati berbicara kepada kita melalui adanya

Di salah satu kamar Museum Linggarjati kita akan menemukan foto besar seorang pria bernama Jacobus (Koos) Johannes van Os. Museum pada mulanya adalah rumah keluarga yang dibangun Koos van Os pada tahun 1930. Anak-anaknya Dr. Willem van Os dan adiknya Joty ter Kulve-van Os dibesarkan di sini. Adalah mereka yang telah mengupayakan sejak 1980 agar rumah ini dapat dilindungi sebagai monumen sejarah dengan cita-cita semoga Spirit Linggarjati akan terus berlanjut kepada generasi muda (Monica Bouman: Return to Linggarjati**).
Jika kita bertanya tentang Spirit Linggarjati, maka bagiku dia juga adalah spirit Gunung Ciremai, spirit Bung Sjahrir, yakni kesediaan untuk saling mendengarkan, berdialog untuk menyelesaikan masalah.
The House got to be well known, because people thinking of the House were speaking of the Spirit of Linggajati. The spirit of Musyawarah, respect for each other, trying to listen and not only hear your own voice; to solve problems without reverting to the use of force.
Joty ter Kulve-van Os dan Willem A.A. van Os
The House**, 12 November 2008

Setelah keluarga van Os, rumah ini pernah dijadikan markas besar tentara Jepang, kemudian Belanda, dan Indonesia. Akhirnya adalah Maria Ulfah Santoso, Menteri Sosial pada masa Kabinet Sjahrir II (Maret-Oktober 1946) yang mendapat ide untuk menjadikan rumah ini sebagai tempat berlangsungnya perundingan Indonesia dan Belanda.
Setelah perundingan, rumah difungsikan sebagai sekolah. Hanya sebuah sekolah kecil, Sekolah Dasar Negeri Linggarjati, dengan murid-murid yang tak seberapa dan tak mampu membiayai pemeliharaan infrastrukturnya. Seiring dengan tahun-tahun yang berlalu, rumah pun tua dimakan usia, atap mulai bocor, di sana-sini cat mengelupas. Hingga suatu ketika di tahun 1985, sang rumah berhasil diperjuangkan untuk dikukuhkan sebagai cagar budaya dan mulai memiliki nama Gedung Perundingan Linggarjati. Gedung pun mulai direnovasi.
Sekarang kita bisa menikmati dengan nyaman rumah mungil di kaki Gunung Ciremai. Berbicara melalui foto, kursi-kursi, dan keberadaannya kepada kita. Tentang Bung Sjahrir dan satu momen dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Iya, ingin menjaga kita dari alpa bahwa pernah ada dalam sejarah bangsa sebuah momen ketika kita percaya ada juga alternatif diplomasi, sebuah jalan keluar yang damai, antara Indonesia dan Belanda. Tentang seorang Bung Sjahrir dalam sejarah kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s