Arsip

Archive for the ‘Panorama’ Category

bendera di ISTANA SULTAN ternate

by; dedi dwitagama, 14 juli 2007

by; dedi dwitagama, 14 juli 2007

Categories: Panorama Tag:, ,

danau TOLIRE ternate

by; dedi dwitagama, 15 juli 2007

by; dedi dwitagama, 15 juli 2007

Categories: Panorama Tag:, ,

pulau MAITARA & TIDORE ternate

foto by; dedi dwitagama

foto by; dedi dwitagama

menatap laut

foto by; dedi dwitagama mei 2009

foto by; dedi dwitagama mei 2009

peserta LKS (Lomba Keterampilan Siswa SMK) tingkat Nasional bidang Nautika

perahu nelayan

foto by: dedi dwitagama, mei 2009

foto by: dedi dwitagama, mei 2009

Muara karang

pohon pulau onrust

April 8, 2009 Dedi Dwitagama 1 comment

tua

tua

di area pemakaman Belanda, 2 April 2009

Categories: Panorama

sunrise pulau bidadari

April 5, 2009 Dedi Dwitagama 1 comment

jumat 3 april 2009

jumat 3 april 2009

Categories: Panorama Tag:,

sunset di pulau bidadari

kamis 2 April 2009

kamis 2 April 2009

Categories: Panorama Tag:,

Bendera partai; lebai (berlebihan)

Maret 28, 2009 Dedi Dwitagama 1 comment

sambil berkendara

sambil berkendara

sesaat keluar dari underpass prumpung dari kampung melayu ke arah cipinang muara 25 Maret 2009

Categories: Panorama

Jakarta Sore

Maret 28, 2009 Dedi Dwitagama 1 comment

kebesaran Sang Pencipta

kebesaran Sang Pencipta

Dari Jalan Tol di atas Pulo Mas arah cawang 23 Maret 2009, Pk. 18.17 WIB

Kraton Kasepuhan Cirebon

November 20, 2008 Dedi Dwitagama 2 komentar
halaman depan

halaman depan

A. Selayang Pandang

Pangeran Sri Mangana Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran Bogor, tercatat sebagai pendiri Keraton Pakungwati sekitar tahun 1480 M. Kedudukannya sebagai putra mahkota dan tumenggung di Cirebon tak membuatnya ragu untuk memisahkan diri dari Kerajaan Padjajaran. Keputusan tersebut diambil agar beliau lebih leluasa mengembangkan agama Islam dan sekaligus terbebas dari pengaruh agama Hindu, agama resmi Kerajaan Padjajaran.

Nama Pakungwati diambil dari nama Ratu Ayu Pakungwati, puteri Pangeran Cakrabuana sendiri. Kelak, Ratu Ayu Pakungwati menikah dengan Syarif Hidayatullah, atau yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Djati. Setelah Pangeran Cakrabuana mangkat, Sunan Gunung Djati naik tahta pada tahun 1483 M. Selain sebagai seorang pemimpin yang disegani, Sunan Gunung Djati juga dikenal sebagai seorang ulama terkemuka di Cirebon.

 

rimbun

rimbun

Pada tahun 1568 M Sunan Gunung Djati wafat. Kemudian, posisinya digantikan oleh cucunya, Pangeran Emas yang bergelar Panembahan Ratu. Pada masa Pangeran Emas inilah dibangun keraton baru di sebelah barat Dalem Agung yang diberi nama Keraton Pakungwati. Sejak tahun 1697 M, Keraton Pakungwati lebih dikenal dengan nama Keraton Kasepuhan dan sultannya bergelar Sultan Sepuh.

 
Pada tahun 1988, untuk menjaga dan melindungi keaslian keraton, terutama koleksi benda-benda kuno peninggalan Kesultanan Cirebon, dua ruangan yang berada di bagian depan Keraton Kasepuhan dijadikan museum yang dapat dikunjungi oleh masyarakat luas.

 

B. Keistimewaan

Mengunjungi Keraton Kasepuhan seakan-akan mengunjungi Kota Cirebon tempo dulu. Keberadaan Keraton Kasepuhan juga kian mengukuhkan bahwa di kota Cirebon pernah terjadi akulturasi. Akulturasi yang terjadi tidak saja antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Sunda, tapi juga dengan berbagai kebudayaan di dunia, seperti Cina,India, Arab, dan Eropa. Hal inilah yang membentuk identitas dan tipikal masyarakat Cirebon dewasa ini, yang bukan Jawa dan bukan Sunda.
Kesan tersebut sudah terasa sedari awal memasuki lokasi keraton. Keberadaan dua patung macan putih di gerbangnya, selain melambangkan bahwa Kesultanan Cirebon merupakan penerus Kerajaan Padjajaran, juga memperlihatkan pengaruh agama Hindu sebagai agama resmi Kerajaan Padjajaran. Gerbangnya yang menyerupai pura di Bali, ukiran daun pintu gapuranya yang bergaya Eropa, pagar Siti Hingilnya dari keramik Cina, dan tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa, merupakan bukti lain terjadinya akulturasi.

 

bagian kereta kencana

bagian kereta kencana

Nuansa akulturasi kian kentara ketika memasuki ruang depannya yang berfungsi sebagai museum. Selain berisi berbagai pernak-pernik khas kerajaan Jawa pada umumnya, seperti kereta kencana singa barong, dua tandu kuno, dan berbagai jenis senjata pusaka berusia ratusan tahun, di museum ini pengunjung juga dapat melihat berbagai koleksi cinderamata berupa perhiasan dan senjata dari luar negeri, seperti senapan Mesir, meriam Mongol, dan zirah Portugis. Singgasana raja yang terbuat dari kayu sederhana dengan latar sembilan warna bendera yang melambangkan Wali Songo. Hal ini membuktikan bahwa Kesultanan Cirebon juga terpengaruh oleh budaya Jawa dan agama Islam.

 

Selain itu, di halaman belakang pengunjung dapat melihat taman istana dan beberapa sumur dari mata air yang dianggap keramat dan membawa berkah. Kawasan ini ramai dikunjungi peziarah pada upacara panjang jimat yang digelar pihak keraton setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

 

 

wah?

wah?

C. Lokasi
Keraton Kasepuhan terletak di Jalan Keraton Kasepuhan No. 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

 

 

D. Akses
Dari Jakarta menuju Cirebon, pengunjung dapat menggunakan bus, travel, atau kereta api. Transportasi serupa juga dapat digunakan pengunjung yang datang dari Bandung. Sesampainya di Cirebon, pengunjung dapat naik angkutan kota atau ojek menuju lokasi keraton.

 

 

berbentuk apa?

berbentuk apa?

E. Harga Tiket
Pengunjung dipungut biaya Rp 3.000,- per orang (data tahun 2007).

 

F. Jadwal Kunjungan
• Hari Senin-Sabtu: 08.00-16.00 WIB.
• Hari Minggu/Libur: 08.00-17.00 WIB.

G. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di dalam lokasi keraton terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa, pusat informasi pariwisata, pramuwisata, pendopo tempat istirahat, dan sekolah tari. Di luar keraton, pengunjung dapat dengan mudah menemukan kios wartel, voucher isi ulang pulsa, warung makan, serta sentra oleh-oleh dan cinderamata. Pengunjung yang ingin bermalam tidak perlu khawatir, karena di kawasan Keraton Kasepuhan terdapat wisma-wisma dan hotel-hotel dengan berbagai tipe.

Sumber: Wisata Melayu
Foto-foto: 10 Oktober 2008

Tanah Lot Bali

14 Juni 2005

14 Juni 2005

Setu Babakan Jagakarsa

September 7, 2008 Dedi Dwitagama 1 comment
Oase di lingkungan khas Betawi

Oase di lingkungan khas Betawi

Danau Tolire

September 7, 2008 Dedi Dwitagama 3 komentar
Dari udara

Dari udara

Masjid Raya Ternate

September 7, 2008 Dedi Dwitagama 1 comment
29 Desember 2007

29 Desember 2007

Malimbu, Lombok

September 2, 2008 Dedi Dwitagama 1 comment
Indah, jernih, ciptaan Maha Besar

Indah, jernih, ciptaan Maha Besar

Lintasan perahu nelayan

Lintasan perahu nelayan

Menatap laut dan pantai dari ketinggian, 31 Agustus 2008

Tanjung Aan, Kuta Lombok

September 1, 2008 Dedi Dwitagama 2 komentar
Bercengkrama

Bercengkrama

Sunyi

Sunyi

Menyenangkan buat penggemar pasir dan pantai.

28 Agustus 2008