Mesjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Yusuf Makkasar

tinggi

tinggi

tampak depan

tampak depan

siluet

siluet

foto-foto 25 juni 2008

foto-foto 25 juni 2008

Bila Anda sempat berkunjung ke daerah yang dijuluki “Kota Angin Mamiri”, agaknya kurang lengkap jika tidak singgah di Masjid Al-Markaz Al-Islami. Masjid yang menjadi pusat kajian pendidikan Islam ini boleh jadi bukan hanya terbesar dan termegah di Sulawesi Selatan, tapi juga di Indonesia.
Gagasan untuk mendirikan Masjid Al-Markaz Al-Islami dan fasilitas pendidikan lainnya, pertama kali dicetuskan oleh Jenderal M Jusuf tahun 1989 di Madinah saat menunaikan ibadah haji. Gagasan itu disampaikan kepada sejumlah tokoh yang pada waktu itu sama-sama menunaikan ibadah haji, antara lain Munawir Syadzali, MA (ketika itu Menteri Agama RI), Prof Dr Sujudi (saat itu masih menjabat Rektor UI) dan pengusaha Drs M Jusuf Kalla.
Rupanya Masjid Nabawi yang indah di Madinah memiliki daya tarik tersendiri bagi M Jusuf, bahkan memberikan motivasi serta menjadi inspirasinya untuk membangun masjid yang monumental di tanah air, sehingga bisa dikenal pula bukan hanya di Indonesia tapi juga oleh publik mancanegara. Bukan itu saja, menurut Drs HM Yusuf Kalla, Ketua Yayasan Islamic Center Al-Markaz Al-Islami, arsitektur masjid yang akan dibangun ketika itu sedapat mungkin menyamai apa yang ada di Masjid Nabawi.
Dipilihnya Makasar sebagai tempat berdirinya masjid dengan arsitektur bergaya Masjid Nabawi di Madinah, dengan alasan kota ini memiliki kaitan historis dengan Jenderal M Jusuf. Kecuali itu, daerah ini juga dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan Islam di Indonesia, namun belum memiliki sebuah masjid yang indah dan fasilitas pendidikan memadai.
Padahal, bila ditelaah ke belakang – di jaman Rasullullah – masjid telah dijadikan sebagai basis kekuatan Islam, dan sarana untuk menggalang persatuan dan kesatuan umat. Melalui masjidlah kajian tentang agama Islam bisa dilaksanakan sebaik-baiknya.
“Salah satu dimensi pokok dalam pembangunan masjid adalah tersedianya lahan yang tepat,” kata Yusuf Kalla. Sebelum ditentukan tempat yang sekarang ini, memang sudah ada lokasi yang cocok sebagai lokasi masjid, yaitu lokasi Hotel Negara. Namun karena lokasi tersebut dianggap sempit akhirnya dialihkan ke bekas Universitas Hasanuddin.
Menempati luas areal 72.229 m2 atau 7,229 ha, didirikanlah Masjid Al-Markaz Al-Islami. Pemancangan tiang pertamanya dilakukan dalam suatu upacara khidmat pada tanggal 8 Mei 1994.

Memakmurkan masjid
“Kerinduan akan berdirinya sebuah pusat kegiatan umat Islam memang sudah lama diharapkan. Itu terlihat dari sambutan masyarakat atas peresmian dan ramainya yang beribadah, terutama di bulan Ramadhan, baik yang datang dari Makasar maupun dari luar daerah,” kata Dr Ravii Yunus, Koordinator Kegiatan Yayasan Al Markaz Al Islami kepada KBI Gemari.
Ditambahkannya, sejalan dengan dibangunnya Masjid Al Markaz Al Islami, didirikan pula Yayasan Al-Markaz Al-Islami dengan maksud dan tujuan yaitu: Pertama, panitia pembangunan masjid juga melakukan pembinaan dan pemeliharaan masjid, sebagai pusat pendidikan dan kegiatan masyarakat. Kedua, sebagai pusat pembinaan dan penyebaran (syiar) Islam. Ketiga, membina dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagai salah satu upaya dalam mencerdaskan kehidupan umat Islam.
Untuk menunjang pelaksanaan segala kegiatan masjid, terutama yang menyangkut bidang pendidikan Islam, maka di kompleks masjid seluas 10 Ha ini selain ada masjid sebagai bangunan utama juga dilengkapi kompleks sekolah.
Namun, seperti para ulama menyebut, apalah artinya masjid yang megah kalau tidak bisa dimakmurkan oleh umat Islam yang ada di sekitarnya dengan kegiatan keislamannya? Dalam upaya memakmurkan masjid yang megah ini, kata Ravii Yunus, ada beberapa kegiatan yang telah dan sedang berjalan baik dalam bentuk pengajian rutin, ceramah agama setiap selesai sholat Dzuhur dan Magrib, serta kegiatan lainnya yang bersifat memperkokoh keislaman. Mesjid Al-markaz Al-Islami juga menjadi sarana untuk sholat lima waktu, sholat Jum’at, sholat Tarawih dan sholat Hari Raya.
Sedangkan ceramah atau dakwah yang dilakukan untuk mencegah kebosanan jamaah, maka setiap penceramah diatur secara berkala setiap empat bulan sekali baru berceramah lagi. Tentunya dengan menggunakan metode yang lebih terencana dan komunikatif. Dalam artian, dibuka kesempatan diskusi atau jika memungkinkan dengan peragaan.
Siraman rohani yang dilaksanakan di Masjid Al-Markas Al-Islami bukan hanya untuk kaum pria saja, tapi juga untuk kaum wanita yang rutin diadakan setiap hari Sabtu. Biasanya dihadiri lebih kurang 300 orang, dengan lebih mengutamakan pengajian dasar dan pendalaman.

Pelatihan jurnalistik
Pendidikan yang diselenggarakan Masjid Al-Markaz Al-Islami adalah pendidikan non formal, tetapi bersifat teratur dan terdaftar serta mempunyai sistem nilai. Untuk tahap pertama yang sudah berjalan adalah pendidikan agama/pengajian/TP-Al Quran, baik untuk anak-anak, remaja, mahasiswa dan dewasa.
Sedangkan kajian-kajian temporer berupa pelatihan jurnalistik, muadzin, dan kajian ramadhan. Selain tentunya pengkajian Islam dan kemasyarakatan dengan menghadirkan ilmuwan sebagai narasumber yang berasal dari Jakarta, Yogyakarta atau Bandung.
Ditambahkan Ravii, suatu masjid yang indah akan lebih indah apabila masyarakat dan jamaahnya bisa meningkat kehidupan dan kegiatan sosial ekonominya berkat kegiatan-kegiatan bersama yang dilaksanakan oleh jamaah mesjid itu sendiri. Karena itu, kegiatan jemaah masjid selain mengikutsertakan jemaah itu sendiri juga melibatkan masyarakat sekitar dan harus dilakukan secara lebih intensif.
Bukan itu saja. Untuk mengembangkan usaha kecil di lingkungan masjid saat ini telah berjalan kegiatan ekonomi yaitu dibukanya toko-toko buku dengan sistem pembayaran bagi hasil 60% untuk pemilik toko dan 40% untuk Al-Markaz. Pasar Jumat di gelar sebelah selatan masjid setiap hari Jumat dengan membayar infak ke masjid sebesar Rp 2.000, sedangkan kantin Al-Markaz membayar infak Rp 20.000 perminggu. Dana yang terhimpun ini akan menjadi kas masjid, dan digunakan untuk biaya pemeliharaan masjid dan sebagainya.
Apabila program ini sudah berjalan dengan mantap, maka fungsi Masjid Al-Markaz harus bisa memberikan dan membagi pengalaman pada masjid-masjid lain baik di kota maupun di daerah dalam bentuk latihan manajemen masjid dan sebagainya.
Untuk menunjang sarana pendidikan, Yayasan Al-Markaz Al-Islami juga membuka siaran Radio Al-Markaz yang telah menjalankan fungsinya kurang lebih satu tahun. Radio tersebut mengudara dari pukul 04.30 sampai pukul 24.00 WITA. Selain menyiarkan paket acara umum juga me-relay kegiatan dakwah yang diadakan di masjid dengan jangkauan 60 km persegi.

Sumber: KBI Gemari

Categories: Bangunan | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Mesjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Yusuf Makkasar

  1. andi

    al markas mmng oke …
    ada tong penjual baju d almarkas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 14,759 other followers

%d bloggers like this: